Kader SMART Posyandu Prafi Belajar Gunakan Perangkat Kesehatan, Perkuat Pelayanan Posyandu
MANOKWARI - Kader SMART Posyandu Prafi terus meningkatkan keterampilan dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat. Bersama Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi–Universitas Airlangga, para kader mengikuti pendampingan penggunaan perangkat kesehatan di Posyandu Desay, Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Jumat (23/10/2026).
Pendampingan ini berfokus pada pengenalan dan pengoperasian Quantum Resonance Analyzer serta Healthy Body Composition. Kegiatan tersebut juga bertujuan meningkatkan kepercayaan diri kader dalam menggunakan perangkat, mencatat hasil pengukuran, serta menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat secara tepat.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot, Dr. Muthmainnah, S.KM., M.Kes., mengatakan kader perlu memahami bukan hanya cara mengoperasikan perangkat, tetapi juga tanggung jawab dan batas penggunaannya.
“Kami berharap kader semakin terampil menggunakan perangkat sesuai petunjuk, mencatat hasil dengan tertib, dan berkomunikasi dengan masyarakat. Kader juga perlu memahami batas kewenangannya serta selalu berkoordinasi dengan tenaga kesehatan ketika ada hasil atau keluhan yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut,” demikian pesan yang disampaikan dalam draf kegiatan.
Salah satu perangkat yang diperkenalkan adalah Healthy Body Composition, yang digunakan untuk mengukur berat badan dan, bergantung pada fitur serta modelnya, memperkirakan komposisi tubuh, seperti persentase lemak dan massa bebas lemak.
Pada perangkat yang menggunakan metode bioelectrical impedance analysis (BIA), hasil komposisi tubuh merupakan estimasi yang perlu dipahami sesuai petunjuk alat dan kondisi pengguna. Informasi tersebut dapat menjadi bahan pemantauan dan edukasi, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan maupun penilaian tenaga kesehatan.
Sementara itu, pengenalan Quantum Resonance Analyzer diarahkan pada pemahaman pengoperasian perangkat dan pembacaan laporannya secara kritis. Hasil yang ditampilkan tidak boleh langsung dianggap sebagai diagnosis penyakit tanpa bukti validasi klinis yang memadai.
Karena itu, laporan perangkat tersebut tidak seharusnya dijadikan dasar tunggal untuk menetapkan penyakit, menentukan pengobatan, atau menggantikan pemeriksaan medis dan laboratorium yang terstandar.
Pemahaman ini penting agar kader dapat mendampingi masyarakat secara bertanggung jawab. Apabila warga mengalami keluhan atau membutuhkan penjelasan lebih lanjut mengenai kondisi kesehatannya, kader perlu mengarahkan mereka untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan di Puskesmas.
“Peran kader sangat membantu dalam mendampingi warga dan mencatat informasi kesehatan. Namun, angka atau laporan dari perangkat harus dipahami sesuai kemampuan alatnya. Jika warga memiliki keluhan, arahkan untuk berkonsultasi ke Puskesmas agar mendapatkan pemeriksaan yang sesuai,” demikian pesan tenaga kesehatan pendamping dalam draf kegiatan.
Bagi kader, pendampingan tersebut menjadi kesempatan untuk mempelajari perangkat yang sebelumnya belum terbiasa digunakan. Selain praktik pengoperasian, kader juga mendapat ruang untuk bertanya mengenai langkah penggunaan dan cara menyampaikan informasi kepada warga dengan bahasa yang mudah dipahami.
“Awalnya kami takut salah menggunakan alat. Dengan pendampingan, kami jadi lebih berani belajar dan bertanya. Kami juga memahami bahwa hasil yang muncul perlu dijelaskan dengan hati-hati dan tidak boleh langsung disebut sebagai penyakit,” demikian draf testimoni perwakilan kader.
Para kader berharap pendampingan dapat dilanjutkan melalui latihan berkala dan penyediaan panduan sederhana yang mudah dipahami. Dengan begitu, keterampilan yang diperoleh dapat terus diasah dan diterapkan saat pelayanan Posyandu berlangsung.
“Kami berharap tetap mendapat bimbingan sampai semakin terbiasa. Kalau ada petunjuk langkah demi langkah, kami bisa belajar bersama kader lain dan lebih tertib saat membantu masyarakat,” demikian harapan kader dalam draf kegiatan.
Selain meningkatkan keterampilan kader, kegiatan ini turut memperhatikan kenyamanan warga, termasuk kelompok lanjut usia (lansia). Pendampingan yang sabar dan penjelasan menggunakan bahasa sehari-hari diharapkan membuat warga lebih nyaman mengikuti pelayanan sekaligus memahami informasi yang disampaikan.
“Kalau didampingi dan dijelaskan pelan-pelan, kami merasa lebih tenang. Kami berharap Posyandu terus berjalan supaya kami bisa rutin datang, bertanya tentang kesehatan, dan mendapat arahan jika perlu ke Puskesmas,” demikian draf tanggapan seorang warga lansia.
Tim Ekspedisi Patriot yang mendampingi program SMART Posyandu Prafi dipimpin Dr. Muthmainnah, S.KM., M.Kes., bersama Sri Rahmawati, Imeldawaati Tambunan, Anggun Anggifosari, Surma Elisa Manihuruk, dan Widyasari Yuni Agustin.
Kegiatan ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan edukasi kesehatan dan pemantauan berkala yang bertanggung jawab.
Pembelajaran keterampilan dan literasi teknologi bagi kader juga berkaitan dengan SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Sementara itu, kolaborasi antara Tim Ekspedisi Patriot, kader, tenaga kesehatan, dan masyarakat mencerminkan dukungan terhadap SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui pendampingan berkelanjutan, program SMART Posyandu Prafi diharapkan semakin memperkuat kapasitas kader dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat, dengan tetap mengutamakan edukasi yang tepat, keselamatan warga, dan rujukan kepada tenaga kesehatan sesuai kebutuhan.
Rilis: TEP 3 UNAIR
What's Your Reaction?