Saat Sinyal Terbatas, Layanan Tetap Berjalan: TEP-19 UI Siapkan Tiga Sekolah di Nikiwar Jadi Pelopor Digitalisasi Kartu Bantu ILP

Oct 22, 2026 - 10:41
 5
Saat Sinyal Terbatas, Layanan Tetap Berjalan: TEP-19 UI Siapkan Tiga Sekolah di Nikiwar Jadi Pelopor Digitalisasi Kartu Bantu ILP
Tiga sekolah disiapkan untuk jadi pelopor layanan kesehatan ibu hamil

TELUK WONDAMA - Keterbatasan jaringan internet di wilayah terpencil tidak harus menjadi penghalang bagi pemanfaatan teknologi dalam pelayanan kesehatan. Tim Ekspedisi Patriot (TEP)-19 Universitas Indonesia (UI) mengembangkan Kartu Bantu Integrasi Layanan Primer (ILP) digital berbasis hybrid yang memungkinkan pencatatan dilakukan secara offline dan pengiriman data secara online ketika konektivitas tersedia.

Instrumen tersebut diuji coba di Balai Kampung Werianggi, Distrik Nikiwar, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Uji coba ini disaksikan Bupati Teluk Wondama Elysa Auri, S.E., M.M., perwakilan Dinas Kesehatan, serta tenaga kesehatan setempat.

Dalam kesempatan itu, Elysa menyampaikan ketertarikannya terhadap inovasi yang diperkenalkan TEP-19 UI. Ia menilai instrumen tersebut sebagai hal baru yang belum pernah dilihatnya dan meminta Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama mempelajarinya lebih lanjut.

Di bawah kepemimpinan Ketua TEP-19 UI, dr. Trevino Aristarkus Pakasi, FS, MS, Sp.KKLP, Ph.D., pengembangan instrumen ini diarahkan untuk menjawab tantangan pelayanan kesehatan di wilayah terpencil, terutama terkait keterbatasan konektivitas dan kebutuhan pencatatan yang lebih terstruktur.

Pengembangan teknis dilakukan Dwi Alfian Junior Hasibuan, S.Farm., MSc., selaku Koordinator Penelitian TEP-19 UI sekaligus pengembang instrumen digital tersebut.

Dalam demonstrasi, sistem memperlihatkan sejumlah fitur perhitungan otomatis, di antaranya indeks massa tubuh (IMT), nilai Z-score berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta kategori status gizi. Fitur ini dirancang untuk membantu kader dan tenaga kesehatan dalam mengolah hasil pengukuran, sedangkan interpretasi klinis dan penentuan tindak lanjut tetap melibatkan tenaga kesehatan profesional.

Koordinator lapangan TEP-19 UI, dr. Keliopas Maniagasi, bersama anggota tim, termasuk Elfis Metkono, S.Hut., Ns. Khansa Citra Ronna, dan Robihah, S.Sos., turut memberikan masukan selama pengujian. Evaluasi dilakukan untuk mengidentifikasi potensi kesalahan input maupun ketidaksesuaian hasil perhitungan sebelum instrumen dikembangkan lebih lanjut.

Pencatatan Offline, Sinkronisasi Saat Jaringan Tersedia

Salah satu keunggulan yang dikembangkan dalam sistem ini adalah kemampuannya mendukung pencatatan tanpa koneksi internet ketika pelayanan berlangsung di kampung. Data yang telah dicatat dapat dikirim dan disinkronkan ke server saat konektivitas tersedia.

Dukungan jaringan, termasuk melalui Starlink di Puskesmas Nikiwar, berpotensi membantu proses pengiriman data dari lapangan. Dengan pendekatan ini, keterbatasan sinyal tidak serta-merta menghentikan pencatatan pelayanan kesehatan.

Data yang terkumpul dirancang untuk mendukung pemantauan dan tindak lanjut oleh Puskesmas, kader yang bertanggung jawab, serta Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.

Untuk pemantauan kesehatan anak usia sekolah, guru yang ditugaskan juga berpeluang memperoleh akses terhadap data siswa yang relevan. Pengaturan akses tersebut tetap perlu memperhatikan kerahasiaan informasi serta perlindungan data pribadi.

Respons positif dari Kader Komunitas Penggerak (KKP), termasuk perwakilan guru, membuka peluang penerapan Kartu Bantu ILP digital di lingkungan pendidikan.

Tiga sekolah di Distrik Nikiwar disiapkan menjadi sekolah pertama di Kabupaten Teluk Wondama yang menerapkan sistem tersebut. Penerapannya diharapkan dapat membantu pemantauan pertumbuhan dan status gizi anak usia sekolah melalui kolaborasi antara sekolah, kader, dan tenaga kesehatan.

Selain untuk anak usia sekolah, instrumen ini juga berpotensi dikembangkan guna mendukung pemantauan pertumbuhan bayi dan balita menggunakan indikator antropometri berdasarkan standar pertumbuhan anak WHO.

Indikator yang dapat dikembangkan mencakup berat badan menurut umur (BB/U), panjang atau tinggi badan menurut umur (PB/U atau TB/U), berat badan menurut panjang atau tinggi badan (BB/PB atau BB/TB), serta indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U).

Namun, penerapan fitur tersebut membutuhkan pengembangan algoritma, pengujian, dan validasi lebih lanjut sebelum dapat digunakan dalam pelayanan rutin.

Melalui inovasi ini, TEP-19 UI berupaya menghadirkan teknologi yang sesuai dengan kondisi nyata di wilayah terpencil. Dengan pengembangan bertahap serta keterlibatan kader, guru, dan tenaga kesehatan, Kartu Bantu ILP digital berbasis hybrid diharapkan dapat memperkuat pelayanan kesehatan primer sekaligus mendukung pengelolaan data yang lebih terstruktur dari tingkat kampung hingga kabupaten.

Rilis: TEP-19 UI

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow