Dari Barang Bekas Jadi Peluang Usaha, Kader SMART Posyandu Prafi Belajar Kerajinan Tangan

Oct 24, 2026 - 15:16
Oct 25, 2026 - 15:17
 8
Dari Barang Bekas Jadi Peluang Usaha, Kader SMART Posyandu Prafi Belajar Kerajinan Tangan
Pelatihan kerajinan tangan untuk mengembangkan wawasan dan modal usaha kader posyandu (red)

MANOKWARI - Barang bekas tak selalu berakhir sebagai sampah. Dengan kreativitas dan keterampilan, bahan yang tersedia di sekitar rumah dapat diolah menjadi kerajinan bernilai guna, bahkan berpotensi menghasilkan pendapatan tambahan.

Semangat tersebut menjadi fokus pelatihan kerajinan tangan bagi kader SMART Posyandu Prafi bersama Ruth P. Baransano di Balai Pertemuan SP4, Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Sabtu (24/10/2026).

Pelatihan ini membekali kader dengan keterampilan memanfaatkan botol plastik bekas dan bahan alam menjadi kerajinan sederhana. Selain menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, kegiatan tersebut membuka peluang pengembangan usaha baru di luar produk camilan sehat yang selama ini dikembangkan para kader.

Melalui materi bertema “Ide Kreatif Ramah Lingkungan: Daur Ulang Jadi Karya”, Ruth mengajak peserta melihat potensi dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Barang yang sudah tidak digunakan dapat diolah kembali menjadi karya menarik melalui kreativitas, ketelitian, dan teknik pengerjaan yang tepat.

Peserta diperkenalkan pada tiga prinsip utama, yakni mengurangi sampah, mengembangkan ide kreatif, serta memilih dan mengolah bahan secara aman. Kebersihan bahan, ketelitian saat memotong, dan kerapian dalam merangkai menjadi aspek penting dalam proses pembuatan kerajinan.

“Mulailah dari bahan yang ada di sekitar kita. Gunakan kembali dengan aman, rapi, dan bertanggung jawab,” demikian pesan dalam materi yang disampaikan Ruth.

Dalam praktik pengolahan botol plastik, peserta dikenalkan dengan penggunaan botol bekas berukuran sedang, kawat, lem, glitter, serta bahan pengikat sesuai kebutuhan. Peralatan seperti gunting, cutter, tang, dan kain lap juga diperkenalkan untuk mendukung proses pengerjaan.

Tahapan pembuatan dimulai dengan mencuci dan mengeringkan botol. Selanjutnya, bagian yang akan digunakan ditandai sesuai rancangan, dipotong secara hati-hati, kemudian dirapikan tepinya. Permukaan botol dapat dihias menggunakan perekat, glitter, kawat, atau bahan tambahan lain sesuai bentuk yang diinginkan.

Peserta juga mendapatkan pengenalan pemanfaatan bahan alam, seperti mayang kelapa, papan atau kayu, tali, dan manik-manik. Bahan-bahan tersebut dapat dibersihkan, dibentuk, dirangkai, kemudian diberi hiasan sesuai rancangan. Kekuatan rangkaian dan kerapian hasil akhir menjadi perhatian agar kerajinan memiliki kualitas yang baik.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi–Universitas Airlangga, Dr. Muthmainnah, S.KM., M.Kes., berharap pelatihan tersebut dapat memunculkan ide usaha baru bagi para kader.

“Kami berharap pelatihan ini membuka ide usaha lain selain camilan sehat. Barang bekas yang masih layak dapat diolah menjadi kerajinan yang menarik dan berpotensi memiliki nilai jual. Dengan terus berlatih, kader diharapkan mampu mengembangkan produk yang dapat memberikan tambahan pendapatan,” ujar Muthmainnah.

Menurutnya, keterampilan yang diperoleh juga perlu dibagikan kepada sesama kader agar pengetahuan tersebut berkembang di dalam kelompok. Untuk membangun usaha, kreativitas perlu diikuti dengan perhatian terhadap kualitas produk, kerapian, biaya produksi, serta kebutuhan calon pembeli.

Pendampingan SMART Posyandu Prafi dilaksanakan Tim Ekspedisi Patriot yang dipimpin Muthmainnah bersama Sri Rahmawati, Imeldawaati Tambunan, Anggun Anggifosari, Surma Elisa Manihuruk, dan Widyasari Yuni Agustin.

Pelatihan kerajinan tangan ini menjadi bagian dari upaya memperluas keterampilan produktif kader sekaligus mengoptimalkan potensi yang tersedia di lingkungan mereka.

Bagi para kader, kegiatan tersebut membuka pengalaman baru dalam memandang barang bekas. Bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini dapat menjadi bahan baku untuk menghasilkan karya yang memiliki nilai tambah.

Perwakilan kader berharap keterampilan yang diperoleh dapat terus dikembangkan melalui latihan dan pendampingan lanjutan, sehingga hasil kerajinan semakin rapi dan berpeluang dipasarkan.

Ke depan, pengembangan produk dapat dilakukan secara bertahap dengan membuat berbagai contoh kerajinan, memperhatikan kegunaan dan kualitasnya, serta menguji minat calon pembeli untuk menentukan harga yang sesuai.

Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 12, yakni Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui pemanfaatan kembali bahan dan pengurangan sampah. Potensi pengembangan kerajinan sebagai sumber pendapatan turut mendukung SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Penguatan keterampilan produktif kader perempuan juga berkaitan dengan SDGs 5 tentang Kesetaraan Gender dan SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Sementara itu, kolaborasi antara narasumber, kader, dan Tim Ekspedisi Patriot mencerminkan semangat SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Melalui pelatihan ini, kader SMART Posyandu Prafi diharapkan tidak hanya semakin kreatif dalam memanfaatkan barang bekas, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan tersebut menjadi peluang usaha yang mendukung ekonomi keluarga sekaligus menjaga lingkungan.

Sumber: Rilis TEP 3 Unair

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow