TEP 17 ITS Perkuat Calistung di Ransiki, Salurkan 1.000 Modul ke Sembilan SD
MANOKWARI SELATAN - Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 17 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkuat kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (Calistung) siswa sekolah dasar di Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, melalui pelatihan guru dan penyaluran 1.000 modul pembelajaran ke sembilan sekolah dasar.
Kegiatan bertajuk Pelatihan Penguatan Pembelajaran Membaca, Menulis, dan Berhitung (Calistung) bagi Guru Sekolah Dasar tersebut berlangsung pada Kamis (22/10/2026). Program ini bertujuan meningkatkan keterampilan guru dalam menerapkan metode pembelajaran literasi dan numerasi yang bertahap, interaktif, serta sesuai dengan kemampuan awal siswa.
Pelatihan dilakukan melalui pemaparan materi, diskusi, dan praktik kelompok. Para guru dibekali strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dengan memanfaatkan media sederhana dan benda-benda di lingkungan sekitar.
Pada sesi literasi baca tulis, Aristanto, M.Pd., dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Papua Barat, menjelaskan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga memahami serta menyampaikan informasi melalui bahasa lisan dan tulisan.
Salah satu materi yang ditekankan adalah fonologi atau pengenalan dan pengolahan bunyi bahasa sebagai fondasi belajar membaca. Menurutnya, siswa perlu dilatih mendengar, membedakan, menggabungkan, dan memisahkan bunyi bahasa sebelum mampu membaca kata dan kalimat secara utuh.
Pembelajaran fonologi dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari kata yang bermakna, suku kata, hingga fonem. Guru juga dapat memanfaatkan lagu, puisi berulang, permainan bunyi, serta benda-benda sederhana untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menarik.
Dalam sesi diskusi, Rusli, guru SD Inpres 51 Sabri, menanyakan cara mengajarkan dasar-dasar huruf kepada siswa. Menanggapi hal tersebut, Aristanto menekankan pentingnya mengenalkan bunyi huruf, bukan hanya nama hurufnya.
Dengan membiasakan siswa mendengar dan mengucapkan bunyi huruf, guru dapat membantu mereka menghubungkan bunyi bahasa dengan simbol tertulis sehingga proses belajar membaca dan menulis menjadi lebih mudah.
Penguatan pembelajaran juga dilakukan pada aspek numerasi melalui materi yang disampaikan Monica Wahyu Pertiwi, M.Pd., dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Papua Barat.
Ia menjelaskan bahwa numerasi merupakan kemampuan menggunakan konsep matematika untuk memahami, menganalisis, dan menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, pembelajaran matematika perlu menekankan pemahaman terhadap makna bilangan dan operasi hitung, bukan sekadar menghafal angka atau rumus.
Salah satu metode yang diperkenalkan adalah pembelajaran dari benda konkret, kemudian beralih ke representasi visual, hingga penggunaan simbol matematika.
Guru dapat menggunakan tutup botol, stik es krim, batu kecil, kancing, atau biji-bijian untuk membantu siswa memahami jumlah benda dan menghubungkannya dengan lambang bilangan. Sementara itu, garis bilangan dapat digunakan untuk mengenalkan urutan angka serta konsep bilangan sebelum, sesudah, dan di antara bilangan lainnya.
Para peserta kemudian mempraktikkan penggunaan benda konkret dan garis bilangan dalam kelompok. Melalui kegiatan ini, guru memperoleh pengalaman langsung menerapkan metode pembelajaran sederhana yang dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah dan kebutuhan siswa.
Selain meningkatkan kapasitas guru, TEP 17 ITS juga menyalurkan 1.000 modul Calistung kepada sembilan sekolah dasar di Distrik Ransiki. Modul tersebut diharapkan menjadi bahan pendukung bagi guru dalam menyusun kegiatan belajar yang lebih terstruktur, variatif, dan sesuai dengan kemampuan awal siswa.
Penyaluran modul ini sekaligus menjadi upaya menjaga keberlanjutan penerapan materi yang diperoleh selama pelatihan, sehingga strategi pembelajaran yang telah dipelajari dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
Melalui pelatihan guru dan penyediaan bahan ajar, TEP 17 ITS mendorong penguatan fondasi literasi dan numerasi siswa sekolah dasar di Ransiki. Penerapan metode secara bertahap, pemanfaatan media sederhana, serta penyesuaian pembelajaran dengan kebutuhan siswa diharapkan dapat mendukung proses belajar yang lebih efektif.
Evaluasi dan pendampingan berkelanjutan juga menjadi bagian penting agar penguatan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara konsisten di sekolah.
Rilis: TEP-17 ITS
What's Your Reaction?