Jalan Sempit Yang Memberi Arti Hidup dalam cerita Penyelenggara Pemilu di Provinsi Papua Barat
Resensi Buku “Jalan Pengabdian: Cerita Sunyi Penyelenggara Pemilu” Karya Sidarman & Abd. Muin Salewe
Oleh: Maikel Ajoi
Bagaimana memberi rasa dan empati pada buku ini? Bagaimana penulis mengeksperimentasi pengalaman mereka? Seperti apa cara buku ini berbicara kepada kita?
Di Agama Kristen ada lagu untuk anak sekolah minggu. Di sekolah minggu kami menyanyikannya. Sepenggal liriknya seperti ini: “di dalam dunia ada dua jalan lebar dan sempit mana kau pilih, yang lebar api jiwamu mati, tapi yang sempit Tuhan berkati......dst.”
Rupanya lagu ini memiliki unsur sophisticated dan pendidikan. Siapa yang suka jalan sempit. Orang pada umumnya tidak menyukai jalan sempit. Secara eksplisit jalan sempit berarti suatu tantangan. Jalan sempit juga adalah sedikit penderitaan. Jalan sempit adalah keterdesakan dan kesesakan. Itulah menariknya paradoks jalan sempit ini. Justru melalui jalan itu ada sebagian orang dapat memberi arti pada hidupnya dan orang lain. Di dalamnya manusia diasah dan diasuh. Ada sebagian orang yang berhasil. Sebagian orang juga menciptakan dunia yang berbeda. Tentulah sedikit orang saja yang menikmati hasil jerih payahnya. Merekalah yang memiliki cerita dan menciptakan sejarah dan memberi arti pada hidup pribadi dan jika mungkin dapat juga dinikmati orang lain. Kurang lebih pengertiannya seperti motto Sri Paus Yohanes Paulus II (Carol Wotjila) “manusia harus menjadi saksi mata fakta bahwa arti hidup itu lebih penting daripada hidup itu sendiri”. Jadi apakah arti hidup itu, dan bagaiaman memiliki arti hidup?. Saya berani bertaruh bahwa hidup yang tidak direnungi, ditangisi, dibenci, dihidupi dan barangkali mengancam hidup itu sendiri tidak akan berarti apa apa. Pahlawan memiliki arti kepada bangsa dan negara karena mereka pernah menderita di medang perang, nyawa mereka nyaris tak tertolong.
Inilah sepenggal rasa dan empati buku yang ditulis oleh Abdul Muin Salewe dan Sidarman. Tak heran memang keduanya berlatar belakang wartawan. Yang satu bekerja sebagai komisioner KPU di Provinsi Papua Barat dan satunya komisioner di KPU Kabupaten Manokwari. Menulis tentang pekerjaan selama tahapan pemilu tahun 2024 menjadi sebuah buku adalah nilai plus dari kerja keras. Di sisi lain ini ibarat “menelubung tali puser sendiri” yang tentu saja menarik mendapat antitesa kritis. Tetapi penulisan gaya jurnalisme sastra oleh keduanya mampu menerobos kesulitan yang seringkali diperoleh penulis sastra lain seperti gaya penulisan roman yang terlalu banyak masuk dalam imajinasi penulis daripada menawarkan fakta-fakta empiris.
Gaya jurnalisme sastra yang dijumpai pada buku ini membawa pembaca seakan-akan ikut dalam semua peristiwa yang diceritakan. Pembaca yang berasal dari Manokwari atau pernah ke Manokwari dan Papua Barat pada umumnya pasti merasa kembali pada pengalaman tempat, nama jalan, dan beragam situasi geogarfis dan suasana yang hampir-hampir melompat dari gagasan imajinatif ke situasi temporal.
Banyak kisah menarik dalam buku ini. Satu kisah tenaga ad hoc (petugas sementara waktu yang bekerja untuk pemilu) dapat disaksikan pada buku ini. Ada pekerjaan berat yang dijalankan para petugas pemutakhiran data pemilih seperti Markus di Distrik Warmare dan beberapa rekannya yang selalu bersemangat. Bayangkan bahwa hasil pemutakhiran mereka sangat berpengaruh terhadap penentuan jumlah Daftar Pemilih Tetap di kabupaten Manokwari. Di Pemilu 2024, Kabupaten Manokwari memiliki Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 138.183 pemilih dan tersebar di 673 TPS pada 173 kampung dan kelurahan. Dari total DPT masing-masing jenis pemilihan adalah sebanyak 141.191 surat suara termasuk tambahan 2%. Selanjutnya berhubungan dengan ketepatan perhitungan dan kesesuaian target waktu dan sasaran pendistribusiannya yang masih menjadi masalah serius di Papua Barat. Buku ini sendiri mengatakan bahwa:
“tantangan terberat dalam pengadaan logistik pemilu sebagian besar daerah Indonesia Timur, adalah seluruh kebutuhan harus dicetak dan didatangkan dari luar Papua. Kesalahan dalam menghitung kebutuhan, akan berakibat fatal. Harus tepat menghitungnya. Pengerjaan harus sesuai target. Waktu pendistribusiannya sampai ke TPS harus dilakukan secermat mungkin.”
Kisah lainnya lagi misalnya kesan seorang petugas sortir dan lipat yang sedang mengerjakan tugasnya. Justru dalam keadaan lelah ia menemukan arti kelelahan itu sebagai suatu tidakan kesadaran yang berguna bagi mimpi orang banyak. Kisahnya di dalam buku ini “capek, tapi seru,” kata seorang relawan sambil tersenyum. “Saya merasa ini kerja yang bikin kita berguna. Tidak semua orang bisa jaga suara rakyat.” bahkan ada kesannya tentang kemudaan dan kelemahan yang dibandingkannya antara pemilu 2019 dan 2024 mengenai penggunaan teknologi.
Pekerjaan mereka hampir maksimal dikerjakan di malam hari. Di waktu yang semua orang sedang tidur, para petugas ini bekerja. Mereka juga melewati jalan berliku dan jurang, licin dan berbahaya yang tidak jarang hampir semua orang takut melewatinya. Hal yang membahayakan nyawa mereka. Mereka pun rela mengubah jadwal pribadinya dengan jadwal dan tahapan pemilu yang sering bertentangan dengan agenda pribadi. Padahal jika ditanya berapa bayarannya? Tidak pantas dijawab karena bukan itu yang mereka cari. Hemat saya untuk itulah kedua penulis ini memberi judul dan sub judul buku ini “jalan pengabdian...cerita sunyi”.
Menulis pengalaman orang lain dengan gaya jurnalisme sastra adalah meliput fakta orang lain dan ditulis dengan gaya bahasa dan struktur narasi layaknya sastra fiksi atau paling dekat adalah roman. Gaya bahasa seperti orang sedang bertutur ini seringkali membuat pembaca terlena dan kehilangan fokus menemukan maksud dan membangun makna. Tapi kedua penulis tampaknya sudah mengetahui hal ini dan mampu memberi ruang bagi pembaca untuk memahami nilai-nilai dalam buku ini. Nilai yang dimaksud adalah nilai tentang perjuangan dan kesabaran dalam kesesesakan yang pada akhirnya memperlihatkan keberhasilan jalannya pemilu dan bahkan pemilukada pada tahun 2024 lalu.
What's Your Reaction?

