Pemkab Teluk Wondama Dukung Festival Budaya Wamesa Pertama, Dorong Jadi Agenda Tahunan
TELUK WONDAMA - Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama mendukung penyelenggaraan Festival Budaya Wamesa yang diinisiasi Tim 10 Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI). Festival perdana yang dipusatkan di Kampung Werianggi ini diharapkan menjadi ruang pelestarian adat, penguatan identitas Suku Wamesa, sekaligus pengembangan ekonomi masyarakat lokal.
Dukungan tersebut disampaikan Bupati Teluk Wondama, Elysa Auri, S.E., M.M., saat menerima audiensi Tim 10 Ekspedisi Patriot UI bersama jajaran pemerintah daerah dan panitia lokal di Kantor Bupati Teluk Wondama, Kamis (15/10/2026).
Festival Budaya Wamesa dirancang sebagai puncak pameran hasil kerja 20 tim Ekspedisi Patriot UI yang selama empat bulan menjalankan program di Kawasan Transmigrasi Werianggi-Werabur. Kegiatan ini juga menjadi wadah mempererat persaudaraan antarkampung dan antarmarga Suku Wamesa yang tersebar di wilayah Teluk Wondama hingga Teluk Bintuni.
Bupati Elysa Auri mengapresiasi inisiatif dan kerja Tim 10 Ekspedisi Patriot yang diketuai Dwi Kristianto, S.Hut., M.Kesos. Ia menilai persiapan festival menjadi salah satu hasil nyata pendampingan tim selama berada di kawasan tersebut.
“Saya sampaikan terima kasih atas inisiasi Tim Patriot yang sudah hampir empat bulan berada di lokus. Hasil output-nya sudah mulai terlihat, terutama dalam kaitannya dengan persiapan penyelenggaraan Festival Budaya Wamesa Pertama yang bertempat di Kampung Werianggi,” ujar Elysa.
Ia menegaskan, Pemkab Teluk Wondama mendukung penuh kegiatan tersebut dan berkomitmen mendorong keterlibatan berbagai unsur pemerintah hingga masyarakat kampung.
Sebagai tindak lanjut, Bupati menginstruksikan penyiapan akses listrik selama 24 jam selama kegiatan, penyediaan sentra UMKM yang menjual kuliner khas masyarakat lokal, serta peninjauan langsung progres pembangunan lokasi festival di Kampung Werianggi.
Bupati juga meminta Dinas Pariwisata dan perangkat daerah terkait melakukan pendampingan agar Festival Budaya Wamesa dapat dikembangkan menjadi agenda kebudayaan tahunan.
Perwakilan Tim 10 Ekspedisi Patriot UI, Muhammad Latif Mubdi, S.Hum., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut awalnya dirancang dengan nama Festival Budaya Kuweta. Namun, konsepnya berkembang menjadi Festival Budaya Wamesa seiring besarnya antusiasme masyarakat Wamesa dari berbagai kampung.
Dalam audiensi itu, Rara Rastri Widyakinasih, M.Hum., turut memaparkan perkembangan persiapan festival. Ia juga menyoroti potensi kegiatan tersebut dalam memperkuat identitas budaya masyarakat di tengah wacana pemekaran Kabupaten Kuri-Wamesa.
Program ini merupakan hasil kerja kolaboratif anggota Tim 10 Ekspedisi Patriot UI, yakni Dwi Kristianto, Muhammad Latif Mubdi, Rara Rastri Widyakinasih, Indriani, S.Hum., Risya Aurellia Meviana, S.I.Kom., dan Muh Abdul Aziz, S.P.
Mengacu pada moto Bupati Teluk Wondama, “setiap rumah adalah sekolah, setiap orang adalah guru”, tim berupaya mengintegrasikan pendekatan akademis dengan kearifan lokal untuk mendorong regenerasi budaya, kemandirian ekonomi masyarakat, serta penguatan identitas kultural Suku Wamesa.
Identitas budaya tersebut hidup di sejumlah wilayah, antara lain Werianggi, Idoor, Mamisi, Windesi, Werabur, Kurey, Tamoge, Jakati, dan Yensei.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Teluk Wondama, Azhar, S.Pt., mengajak seluruh perangkat daerah dan elemen masyarakat untuk melanjutkan program yang telah dirintis Tim Ekspedisi Patriot.
“Mari kita berkolaborasi sehingga apa yang telah dilakukan adik-adik Patriot tidak putus di sini. Kita siap melanjutkan pendampingan dan pelatihan dengan belajar dari ilmu yang telah dibagikan,” kata Azhar.
Melalui kolaborasi Dewan Adat, pemerintah daerah, pihak gereja, dan masyarakat kampung, Festival Budaya Wamesa diharapkan menjadi momentum untuk menjaga warisan budaya antargenerasi sekaligus membuka peluang pengembangan UMKM dan ekowisata berbasis masyarakat.
Dukungan pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat menjadi faktor penting agar festival ini tidak berhenti sebagai kegiatan perdana, tetapi berkembang menjadi ruang berkelanjutan bagi pelestarian budaya dan penguatan ekonomi masyarakat Wamesa.
Sumber: Rilis TEP-10 UI
What's Your Reaction?