Kadisdik Papua Barat Ajak Orang Tua Selesaikan Konflik Siswa SMA Taruna Kasuari Nusantara Dari Hati Ke Hati

Apr 27, 2026 - 11:16
 5
Kadisdik Papua Barat Ajak Orang Tua Selesaikan Konflik Siswa SMA Taruna Kasuari Nusantara Dari Hati Ke Hati
Pertemuan orang tua siswa SMA Taruna Kasuari Nusantara (Tri Santoso)

MANOKWARI - Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat, Barnabas Dowansiba, mengajak seluruh orang tua siswa SMA Taruna Kasuari Nusantara untuk menyelesaikan permasalahan antar siswa melalui dialog dari hati ke hati.

Ajakan tersebut disampaikan saat memimpin rapat pertemuan bersama pihak sekolah dan perwakilan paguyuban orang tua, Senin (27/4/2026).

Dalam arahannya, Barnabas menegaskan pentingnya semua pihak duduk bersama untuk mencari solusi atas persoalan yang terjadi, tanpa menunda-nunda penyelesaian.

“Bapak kepala sekolah, ketua-ketua paguyuban, kita harus duduk sama-sama dan bicarakan ini. Selesaikan, tidak boleh tidak,” tegasnya.

Ia menekankan, penyelesaian konflik harus segera dilakukan mengingat sekolah akan digunakan untuk kegiatan besar dalam waktu dekat, yakni Pesparawi, yang melibatkan penggunaan fasilitas seperti bus dan asrama.

“Kalau masalah ini tidak diselesaikan, proses belajar mengajar bisa terganggu. Kita ingin anak-anak kembali belajar dengan baik dan semua pulang dengan damai,” ujarnya.

Barnabas juga menjelaskan bahwa pihaknya sempat mengambil langkah pengamanan dengan memulangkan sementara sekitar 60 siswa yang terlibat dalam permasalahan. Namun, ia menegaskan bahwa langkah tersebut bukan berarti mengeluarkan siswa dari sekolah.

“Ini bukan dibuang, tapi bagian dari proses pengamanan. Mereka tetap akan mengikuti proses pendidikan dan kenaikan kelas,” jelasnya.

Menurutnya, keterbatasan fasilitas menjadi kendala dalam penanganan konflik, khususnya dalam menyediakan ruang isolasi atau pembinaan khusus bagi siswa yang bermasalah.

Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan psikologis dalam menangani siswa, mengingat potensi trauma yang bisa dialami akibat konflik tersebut.

“Harus ada penanganan khusus, termasuk dukungan dari guru yang memahami psikologi anak. Pendekatan ini penting agar mereka bisa pulih dan kembali belajar dengan baik,” katanya.

Barnabas menilai, permasalahan yang terjadi sebenarnya tidak terlalu kompleks dan lebih disebabkan oleh kesalahpahaman antara siswa junior dan senior.

“Kalau kita kaji, ini hanya masalah pemahaman. Tidak ada persoalan besar, hanya komunikasi yang kurang baik antara junior dan senior,” ungkapnya.

Ia pun berharap melalui dialog terbuka antara orang tua, sekolah, dan siswa, persoalan tersebut dapat segera diselesaikan tanpa berlarut-larut.

Penulis: Kabarnusantara.co

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow