Dari Ring Juara ke Tepi Jalan: Kisah Christina Jimbay Menjaga Asa di Tengah Janji yang Tertunda

Apr 15, 2026 - 18:24
 61
Dari Ring Juara ke Tepi Jalan: Kisah Christina Jimbay Menjaga Asa di Tengah Janji yang Tertunda
Atlet tinju Papua Barat pemenang medali emas 3 kali PON Christine Jimbay.

Penulis: Kabarnusantara.co

Ditengah hiruk pikuk pusat kuliner kawasan Reremi, Manokwari, sosok Christina M. Jimbay tampak sigap mengatur kendaraan yang keluar masuk area parkir. Dengan rompi sederhana dan peluit di tangan, ia menjalani rutinitas yang jauh dari bayangan banyak orang tentang seorang juara.

Tak banyak yang tahu, perempuan itu adalah atlet tinju putri Papua Barat yang telah tiga kali meraih prestasi tertinggi (Medali emas). Dari ring pertandingan yang penuh sorak sorai, kini ia berdiri di tepi jalan, berjuang menyambung hidup sambil menanti janji yang belum juga tuntas.

Christina bukan nama asing di dunia olahraga Papua Barat. Selama 12 tahun ia mengabdikan diri sebagai atlet, bahkan tujuh tahun di antaranya dihabiskan dalam pemusatan latihan nasional (pelatnas). Dedikasi itu ia bayar dengan prestasi gemilang di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).

Pada PON XX Papua, Christina tampil di kelas 57 kilogram tinju putri dan berhasil merebut medali emas. Kemenangan itu disambut dengan janji bonus sebesar Rp1 miliar dari Pemerintah Provinsi Papua Barat. Namun hingga kini, realisasi yang diterima baru Rp450 juta.

Prestasi itu bukan yang terakhir. Di PON XXI Aceh–Medan, Christina kembali naik ring, kali ini di kelas 66 kilogram. Hasilnya sama: medali emas kembali ia persembahkan. Ia pun dijanjikan bonus Rp400 juta, tetapi yang diterima hanya Rp150 juta.

Sisa bonus yang belum terbayarkan menjadi beban yang terus ia perjuangkan hingga sekarang. Bagi Christina, persoalan ini bukan sekadar angka, melainkan bentuk penghargaan atas kerja keras dan pengorbanan yang telah ia berikan.

“Kecewa pasti ada,” ucapnya lirih. “Apalagi kita sudah lama mengabdi, sudah berjuang membawa nama daerah.”

Kekecewaan itu terasa semakin dalam ketika ia mengingat berbagai tawaran yang pernah datang. Beberapa daerah besar seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat sempat mengajaknya berpindah untuk memperkuat kontingen mereka. Namun Christina memilih bertahan.

“Saya pernah ditawari pindah, tapi dari hati tetap ingin membela Papua Barat,” katanya.

Pilihan itu kini ia jalani dengan segala konsekuensinya. Tanpa kepastian atas hak yang dijanjikan, Christina harus bertahan hidup dengan bekerja sebagai juru parkir di pusat kuliner. Setiap hari ia menghadapi panas dan hujan, jauh dari fasilitas dan perhatian yang dulu ia rasakan sebagai atlet.

Harapan sempat muncul pada Maret lalu. Christina dipanggil oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Papua Barat untuk mengikuti proses pemberkasan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). Ia datang dengan penuh optimisme, berharap ada jalan keluar untuk masa depannya.

Namun hingga kini, proses itu belum menunjukkan kelanjutan.

“Waktu itu diminta lampiran pekerjaan untuk P3K, tapi belum ada kabar lagi sampai sekarang,” ujarnya.

Kisah Christina bukanlah cerita tunggal. Ia menyebut sejumlah rekan atlet dari cabang olahraga lain seperti kempo dan dayung juga mengalami kondisi serupa—prestasi ada, tetapi penghargaan belum sepenuhnya diterima.

Situasi ini menjadi potret nyata tentang tantangan yang dihadapi para atlet daerah, bahkan setelah mereka mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.

Meski demikian, Christina tidak kehilangan harapan. Ia ingin ke depan ada perubahan, terutama dalam kepemimpinan olahraga daerah.

“Siapapun yang jadi ketua KONI nanti, harus lebih bertanggung jawab terhadap atlet. Supaya atlet bisa terus memberikan yang terbaik,” tegasnya.

Di balik kesederhanaan pekerjaannya hari ini, semangat juang Christina tetap menyala. Ia mungkin tidak lagi berada di atas ring, tetapi pertarungan yang ia hadapi kini jauh lebih berat melawan ketidakpastian dan memperjuangkan hak yang belum terpenuhi.

Dan di sudut Reremi, seorang juara masih berdiri tegak, menjaga harapan agar janji itu suatu hari benar-benar ditepati.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow