IPNU–IPPNU Back to School Gandeng Kemendukbangga/BKKBN Cegah Perkawinan Anak di Manokwari
MANOKWARI - Pimpinan Cabang (PC) IPNU dan IPPNU Kabupaten Manokwari menggelar program IPNU IPPNU Back to School sebagai upaya nyata menangani akar persoalan perkawinan anak di kalangan pelajar.
Kegiatan ini berlangsung selama 14–24 Januari 2026 dan menyasar tujuh satuan pendidikan di wilayah Warpramasi, dengan melibatkan Penyuluh KB dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) Provinsi Papua Barat.
Program tersebut dilaksanakan di MIN 1 Manokwari, MIN 2 Manokwari, MI Miftahul Huda, MI Baitul Amin, MAN Manokwari, MTsN Manokwari, serta SMP Bastren Darussalam Aimasi. Materi utama yang diberikan kepada siswa meliputi pengelolaan diri (self-control) dan edukasi kesehatan reproduksi remaja, dengan tema “Back to School, Back to Control: Pelajar Cerdas Mengelola Diri Menuju Indonesia Emas 2045.”
Kegiatan ini dinilai sangat relevan mengingat Papua Barat tercatat sebagai salah satu provinsi dengan persentase perkawinan anak tertinggi di Indonesia. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) yang dirilis JPNN pada 3 November 2017 menempatkan Papua Barat dalam lima besar nasional untuk kasus tersebut.
Sekretaris PW IPPNU Papua Barat, Sahara, mengapresiasi langkah PC IPNU dan IPPNU Manokwari yang dinilainya tepat sasaran. Menurutnya, remaja saat ini memiliki semangat besar yang perlu diarahkan agar tidak berujung pada keputusan yang merugikan masa depan.
“Melihat semangat remaja di era sekarang yang sangat menggebu-gebu, melalui kegiatan ini diharapkan mereka mampu mengarahkan energinya ke hal-hal positif dan menjauhi perilaku yang justru dapat mengubur potensi diri,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PC IPNU Manokwari Muhammad Gibran Akbar bersama Ketua PC IPPNU Manokwari Eka Kurnia menegaskan bahwa pendekatan preventif menjadi kunci utama dalam menekan angka perkawinan usia dini.
“Banyak kasus perkawinan anak berawal dari kehamilan yang tidak diinginkan. Melalui program Back to School ini, kami membekali pelajar dengan pengetahuan kesehatan reproduksi serta kemampuan mengelola diri agar mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab,” kata mereka.
Penyuluh KB Kemendukbangga/BKKBN Papua Barat, Haroh, menambahkan bahwa edukasi yang tepat dapat membantu remaja melewati masa pubertas dengan lebih bijak. Ia berharap materi yang disampaikan dapat menjadi pegangan siswa untuk menghindari berbagai risiko, termasuk kehamilan di luar rencana yang kerap berujung pada perkawinan dini dan putus sekolah.
Dukungan juga datang dari pihak sekolah. Salah satu kepala madrasah yang dikunjungi menyatakan bahwa program tersebut sangat dibutuhkan oleh siswa dan menyentuh persoalan yang kerap dihadapi remaja.
“Kami sangat mendukung kegiatan ini dan berharap dapat dilaksanakan secara rutin serta berkelanjutan,” ujarnya.
Program IPNU IPPNU Back to School diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan menjadi intervensi edukatif berkelanjutan dalam menurunkan angka perkawinan anak dan kehamilan tidak diinginkan. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari penyiapan generasi muda Papua Barat yang sehat, berpendidikan, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
Sumber: Rilis
What's Your Reaction?

