TEP 17 ITS Perkuat Pembelajaran STEM di Ransiki, Salurkan STEM Kit untuk 17 Sekolah
MANOKWARI SELATAN - Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 17 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan di Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, melalui penguatan pembelajaran berbasis Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM).
Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Penguatan Pembelajaran STEM bagi guru yang digelar pada Selasa (20/10/2026), sekaligus penyaluran modul pembelajaran dan STEM Kit untuk mendukung penerapan metode tersebut di 17 sekolah di Distrik Ransiki.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, serta mampu menemukan solusi atas berbagai persoalan di lingkungan sekitar.
Dalam sesi motivasi STEM, Dr. Juni Syaputra, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, memaparkan konsep, manfaat, serta penerapan pendekatan STEM dalam kegiatan belajar mengajar.
Ia menjelaskan, integrasi sains, teknologi, enjinering, dan matematika dapat membantu peserta didik memahami berbagai persoalan nyata melalui pengalaman langsung, penyelidikan, dan proses pemecahan masalah.
Dalam pendekatan ini, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga menjadi fasilitator yang mendampingi peserta didik dalam membangun pengetahuan dan menemukan solusi.
Penerapan STEM juga dapat dikembangkan dengan mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti pengelolaan sampah dan pemanfaatan sumber daya lokal. Dengan demikian, lingkungan sekolah dapat menjadi sumber belajar yang mendorong kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan berpikir kritis siswa.
Materi berikutnya membahas penyusunan Perencanaan Pembelajaran Mendalam berbasis STEM (RPM STEM), yang disampaikan Novita Erni Hendrawati, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, sekaligus fasilitator daerah bidang pembelajaran mendalam di Manokwari.
Pada sesi tersebut, para guru dibekali kemampuan menyusun tujuan pembelajaran, mengidentifikasi kesiapan dan karakteristik peserta didik, merancang pengalaman belajar kontekstual, mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, hingga menyusun asesmen untuk mengukur proses dan hasil belajar.
Tidak hanya menerima materi, peserta juga mengikuti praktik penyusunan rancangan pembelajaran berdasarkan persoalan di lingkungan sekolah masing-masing. Melalui diskusi dan presentasi kelompok, guru didorong menerjemahkan konsep STEM menjadi kegiatan pembelajaran yang aplikatif dan sesuai dengan kondisi sekolah.
Pelatihan semakin menarik melalui demonstrasi empat eksperimen STEM sederhana yang dipandu Tim Ekspedisi Patriot 17 ITS. Eksperimen tersebut meliputi balon mengembang tanpa pompa, percobaan minyak dan air, filtrasi air sederhana, serta pembuatan kincir air mini.
Melalui demonstrasi ini, guru diperlihatkan bahwa konsep ilmiah dapat dipelajari secara menyenangkan dengan memanfaatkan alat dan bahan sederhana. Metode eksperimen juga dapat menjadi alternatif untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih aktif, interaktif, dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, TEP 17 ITS turut menyerahkan modul pembelajaran STEM dan STEM Kit untuk 17 sekolah di Distrik Ransiki.
Modul tersebut diharapkan menjadi panduan bagi guru dalam menyusun kegiatan pembelajaran, sedangkan STEM Kit dapat dimanfaatkan sebagai perangkat pendukung eksperimen dan praktik langsung di kelas.
Penyaluran ini menjadi langkah penting agar pelatihan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan guru, tetapi dapat diterapkan secara nyata dalam proses belajar mengajar.
Melalui program tersebut, TEP 17 ITS berharap guru mampu mengembangkan pembelajaran yang kontekstual dengan memanfaatkan sumber daya lokal serta menyesuaikan materi dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik.
Penguatan kolaborasi antarguru, dukungan kepala sekolah, serta pendampingan dan evaluasi secara berkelanjutan juga menjadi faktor penting dalam memastikan penerapan pembelajaran STEM berjalan optimal.
Melalui pelatihan dan penyaluran STEM Kit ini, TEP 17 ITS berharap praktik pembelajaran STEM semakin berkembang di sekolah-sekolah Distrik Ransiki, sehingga peserta didik tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memiliki kemampuan mengeksplorasi, berinovasi, dan menghasilkan solusi terhadap berbagai persoalan nyata.
Rilis: TEP 17 ITS
What's Your Reaction?