Konflik Siswa SMA Taruna Kasuari Nusantara Berakhir Damai, Beberapa Catatan diberikan Untuk Siswa

Apr 29, 2026 - 12:16
 24
Konflik Siswa SMA Taruna Kasuari Nusantara Berakhir Damai, Beberapa Catatan diberikan Untuk Siswa
Kadisdik Papua Barat saat melakukan mediasi pertemuan orang tua siswa (Tri Santoso)

MANOKWARI - Konflik antar dua kelompok siswa di SMA Taruna Kasuari Nusantara akhirnya berujung damai. Kesepakatan tersebut dicapai dengan sejumlah catatan penting, termasuk penyelesaian secara adat serta permohonan maaf terbuka dari pihak yang terlibat.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat, Barnabas Dowansiba, menjelaskan bahwa kedua belah pihak, termasuk orang tua siswa, telah menerima penyelesaian damai tersebut.

“Orang tua menerima damai dengan catatan, penyelesaian dilakukan secara adat. Pihak paguyuban angkatan empat akan menanggung seluruh biaya yang dikeluarkan oleh pihak korban,” ujarnya, Usai pawai Pendidikan di Manokwari.

Ia menambahkan, proses penyelesaian akan dilaksanakan di lapangan terbuka dengan melibatkan orang tua dari kedua belah pihak. Dalam mekanismenya, siswa kelas 10 akan menerima permohonan maaf secara langsung dari siswa dan orang tua kelas 11.

Sebagai bagian dari kesepakatan, pihak sekolah juga akan menyiapkan surat pernyataan bagi masing-masing pihak. Untuk siswa kelas 10, mereka diwajibkan menyatakan tidak akan melakukan aksi balasan terhadap kakak maupun adik tingkat. Sementara siswa kelas 11 harus berkomitmen tidak mengulangi perbuatannya, dengan konsekuensi dikeluarkan secara hormat apabila pelanggaran terulang.

“Kami tidak akan memfasilitasi ke mana-mana. Ini harus menjadi yang terakhir kali,” tegasnya.

Terkait sanksi, Barnabas menyebutkan bahwa pembelajaran daring masih tetap diberlakukan sementara waktu hingga seluruh proses penyelesaian benar-benar tuntas. Ia juga berharap kesepakatan damai ini dapat mendorong pihak korban untuk mencabut laporan di kepolisian.

Menanggapi pertanyaan mengenai permohonan maaf terbuka, ia menegaskan bahwa seluruh siswa dalam satu angkatan turut bertanggung jawab.

“Mau tidak mau, karena jiwa korsa tetap ada, maka seluruh paguyuban angkatan empat harus bertanggung jawab atas masalah ini,” katanya.

Ke depan, Dinas Pendidikan Papua Barat juga berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan di sekolah tersebut dengan mengacu pada standar SMA Taruna Nusantara di Magelang.

“Kalau anggaran memungkinkan, tahun ini kita akan ke sana untuk melihat langsung sistem yang diterapkan. Evaluasi akan dilakukan secara menyeluruh, termasuk terhadap kepemimpinan sekolah,” pungkasnya.

Penulis: Kabarnusantara.co

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow