Kader Posyandu Prafi Belajar Kemasan, Label hingga Produksi Bakso Tanpa MSG
MANOKWARI - Sebanyak 40 kader Posyandu mengikuti pelatihan packaging dan labelling di Balai Kampung Matoa, Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Jumat (25/9/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program SMART Kader Posyandu Prafi yang bertujuan meningkatkan mutu, keamanan, daya tarik, serta nilai jual produk pangan lokal yang dikembangkan para kader.
Pelatihan menghadirkan Kepala Seksi Pelayanan Kefarmasian Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari, Apt. Bastiana Marlina Wakum, S.Farm., M.Farm., sebagai narasumber. Materi tambahan disampaikan Ketua Tim SMART Posyandu, Dr. Muthmainnah, S.KM., M.Kes.
Bastiana menjelaskan bahwa kemasan tidak sekadar berfungsi sebagai pembungkus, tetapi juga melindungi produk dari udara, cuaca, guncangan, kotoran, hingga kontaminasi selama penyimpanan dan distribusi.
“Pemilihan kemasan harus disesuaikan dengan jenis produknya. Produk kering, kue, sambal, makanan beku, dan produk olahan daging membutuhkan perlakuan yang berbeda,” jelas Bastiana.
Para kader diperkenalkan dengan berbagai jenis kemasan, seperti plastik, kertas atau karton, kaca, kaleng, botol, pouch hingga kemasan vakum. Mereka juga mendapat pemahaman mengenai kemasan primer, sekunder dan tersier.
Selain kemasan, peserta belajar menyusun label pangan yang informatif, antara lain mencantumkan nama dan merek produk, komposisi, berat bersih, identitas produsen, tanggal produksi, batas konsumsi, cara penyimpanan, kontak pemesanan serta informasi izin dan sertifikasi setelah diperoleh secara resmi.
Materi juga mencakup pentingnya legalitas usaha, pendaftaran merek atau Hak Kekayaan Intelektual, izin edar sesuai kategori produk dan sertifikasi halal.
Dr. Muthmainnah mengatakan kemasan dan label menjadi bagian penting dalam membawa produk kader menuju pasar yang lebih luas.
“Produk kader harus memiliki rasa yang enak, tetapi kualitas produk tidak berhenti di dapur. Kader juga perlu memperhatikan kebersihan, keamanan pangan, kemasan, informasi pada label, masa simpan, dan cara memasarkan produk,” katanya.
Kader juga dikenalkan dengan penggunaan QR Code yang dapat diarahkan ke video edukasi mengenai produk, mulai dari bahan utama, alergen, keunggulan, informasi gizi, proses produksi, cara penyajian, penyimpanan, legalitas hingga kontak pemesanan.
Pelatihan tidak hanya berupa pemaparan materi. Para peserta juga melakukan praktik membuat bakso ayam, bakso rusa, bakso sapi, tahu bakso dan nugget sebagai alternatif produk olahan untuk dikembangkan menjadi usaha kelompok.
Produk bakso dibuat tanpa tambahan MSG dengan komposisi daging yang lebih banyak. Setelah matang, kader bersama tim melakukan penilaian sederhana terhadap rasa, tekstur, aroma dan kesesuaian bumbu.
“Baksonya enak dan terasa dagingnya. Tahu baksonya juga enak, sehat, dan rasanya pas. Walaupun tanpa MSG, rasanya tetap gurih,” ujar salah seorang kader.
Peserta kemudian mempraktikkan penggunaan vacuum sealer untuk mengeluarkan udara dari kemasan sebelum ditutup rapat. Teknik tersebut dinilai dapat membantu melindungi produk sekaligus membuat kemasan lebih rapi.
Kegiatan juga dilengkapi simulasi pemasangan label sehingga kader memahami penempatan ukuran, warna, tulisan, komposisi, identitas produsen, petunjuk penyimpanan dan informasi legalitas secara proporsional serta mudah dibaca.
Program SMART Posyandu dikoordinasikan Dr. Muthmainnah bersama Sri Rahmawati, S.Psi., M.Si.; Surma Elisa Manihuruk, S.KM., M.Kes.; Anggun Anggifosari, S.I.Kom.; Imeldawati Tambunan, S.KM.; dan Widyasari Yuni Agustin, S.T.
Tim mendampingi kader mulai dari pengembangan resep, peningkatan kualitas produk, desain kemasan dan label, pembuatan konten edukasi hingga pemasaran digital.
Ke depan, produk hasil pelatihan akan terus dikembangkan melalui uji rasa, penyempurnaan resep, penentuan masa simpan, penyusunan label, pengurusan legalitas serta promosi melalui media sosial dan marketplace.
Melalui pelatihan tersebut, kader diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan makanan yang enak, tetapi juga produk yang aman, informatif, menarik dan memiliki nilai ekonomi.
Rilis TEP 3 Unair
What's Your Reaction?

