Dari Dapur Produksi ke Promosi Digital, Post-Test Ukur Kemandirian Kader Posyandu Prafi

Nov 5, 2026 - 14:57
 9
Dari Dapur Produksi ke Promosi Digital, Post-Test Ukur Kemandirian Kader Posyandu Prafi
Tim 3 ekspedisi patriot Unair bersama kader posyandu prafi (Red)

MANOKWARI - Pendampingan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) mulai menunjukkan hasil dalam penguatan kapasitas kader Posyandu di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Tidak hanya mampu mengolah pangan lokal menjadi produk bernilai ekonomi, kader kini mulai menguasai pemasaran digital, termasuk membuat materi iklan dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).

Perkembangan tersebut dievaluasi melalui pengumpulan data post-test dalam program SMART Kader Posyandu Prafi. Evaluasi ini bertujuan mengukur perubahan pengetahuan, keterampilan, penerimaan teknologi, hingga kesiapan kader melanjutkan kegiatan usaha secara mandiri setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan.

Pengumpulan data menyasar lima kelompok kader, yakni Prafi Mulya, Desay, Aimasi, Udapi Hilir, dan Kali Amin. Evaluasi dilakukan setelah rangkaian pendampingan periode Agustus–November 2026 dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah program, sekaligus menggali pengalaman serta tantangan yang dihadapi kader.

Ketua TEP UNAIR, Dr. Muthmainnah, S.KM., M.Kes., mengatakan evaluasi tersebut menjadi dasar untuk mengukur capaian program sekaligus menentukan kebutuhan pendampingan lanjutan.

“Melalui post-test, kami ingin mengetahui perubahan yang dirasakan kader, mulai dari keterampilan membuat produk, menggunakan peralatan, hingga memasarkan hasil usahanya. Kami juga ingin mendengar kendala yang masih dihadapi agar tindak lanjutnya sesuai dengan kebutuhan kader,” ungkapnya.

Program ini melibatkan seluruh anggota tim, yakni Sri Rahmawati, S.Psi., M.Si.; Surma Elisa Manihuruk, S.KM., M.Kes.; Imeldawati Tambunan, S.KM.; Widyasari Yuni Agustin, S.T.; dan Anggun Anggifosari, S.I.Kom.

Dari Pengolahan Pangan hingga Pemasaran Digital

Selama pendampingan, kader mendapatkan berbagai pelatihan yang mencakup edukasi kesehatan melalui edutainment dan komunikasi edukasi, produksi camilan berbahan pangan lokal seperti sayur, buah, umbi, dan ikan, hingga pengemasan, pelabelan, serta keamanan pangan.

Pendampingan juga mencakup pengurusan perizinan dan sertifikasi produk, termasuk PIRT dan halal. Kader dibekali keterampilan pemasaran digital, pembuatan materi promosi dan iklan berbasis AI, fotografi produk, serta kerajinan tangan dari barang bekas.

Dalam aspek teknologi produksi, kader dilatih mengoperasikan sejumlah peralatan, seperti alat pengiris, vacuum sealer, spinner, dan pengukus. Mereka juga diperkenalkan dengan penggunaan teknologi alat kesehatan.

Penguatan usaha tidak berhenti pada kemampuan memproduksi barang. Kader turut mendapatkan pendampingan dalam membangun identitas merek, memperkuat legalitas dan kelembagaan usaha, menyusun katalog dan alur pemesanan, melakukan pencatatan keuangan, hingga mengatur pembagian tugas dan jadwal produksi.

Diseminasi produk menjadi ruang bagi kader untuk memperkenalkan hasil olahan kepada masyarakat sekaligus membahas strategi keberlanjutan setelah program pendampingan berakhir.

Kader Desay Mulai Percaya Diri Melanjutkan Usaha

Dampak pendampingan dirasakan langsung oleh kader Kelompok Desay. Salah satu perwakilannya mengungkapkan bahwa mereka kini memiliki kemampuan mengolah berbagai bahan pangan menjadi produk camilan yang memiliki nilai jual.

“Setelah pendampingan, kami sudah bisa membuat berbagai produk olahan, seperti keripik pisang cokelat dan original serta lumpia ubi ungu isi cokelat,” tuturnya.

Kemampuan memasarkan produk juga mengalami perkembangan. Jika sebelumnya belum memahami strategi promosi, kini kader mulai mengenal pemasaran digital dan pemanfaatan teknologi AI untuk membuat iklan.

“Dulu kami belum tahu cara memasarkan produk, sekarang sudah lebih memahami digital marketing dan bisa membuat iklan menggunakan AI,” lanjutnya.

Keterampilan tersebut diperkuat melalui praktik langsung penggunaan peralatan produksi dan pengemasan.

“Sekarang kami lebih memahami penggunaan alat produksi, seperti alat pengiris dan vacuum, karena sudah didampingi secara langsung,” ujarnya.

Berbagai pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh membuat kader lebih percaya diri untuk meneruskan kegiatan usaha tanpa harus selalu bergantung pada pendampingan tim.

“Pembuatan produk dan pemasaran bisa kami lanjutkan sendiri karena sudah belajar dan memahami caranya,” tambahnya.

Meski demikian, perjalanan menuju kemandirian usaha masih menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan modal, waktu produksi, serta koordinasi antaranggota menjadi persoalan yang perlu diselesaikan bersama.

“Kendala kami masih pada modal dan waktu produksi. Selain itu, karena karakter setiap anggota berbeda, kami perlu lebih banyak berdiskusi dan berkoordinasi,” ungkap perwakilan Kelompok Desay.

Keberlanjutan Jadi Fokus Pendampingan

Muthmainnah menegaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari kemampuan kader menghasilkan produk, tetapi juga dari kesiapan kelompok dalam mengelola usaha secara berkelanjutan.

“Keberlanjutan membutuhkan kesepakatan yang bisa dijalankan bersama, seperti jadwal produksi, pembagian peran, pencatatan keuangan, dan tindak lanjut pesanan. Hasil evaluasi ini akan membantu kami bersama kader dan mitra menentukan bagian yang masih perlu diperkuat,” jelasnya.

Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan pertanyaan terbuka. Kader yang membutuhkan bantuan membaca turut didampingi dalam pengisian, dengan tetap memberikan jawaban berdasarkan pengalaman masing-masing.

Selain mengukur perubahan sebelum dan sesudah program, evaluasi juga menggali kemudahan penggunaan serta manfaat peralatan bagi aktivitas kader.

Program SMART Kader Posyandu Prafi turut diarahkan untuk mendukung sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Kontribusi tersebut meliputi SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan kapasitas kader dan edukasi kesehatan; SDG 5 tentang Kesetaraan Gender melalui peningkatan keterampilan dan peran ekonomi perempuan; serta SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan usaha berbasis potensi lokal.

Pemanfaatan bahan pangan lokal dan pengolahan barang bekas juga mendukung SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Sementara kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, layanan kesehatan, sekolah, dan masyarakat mencerminkan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Melalui evaluasi post-test ini, TEP UNAIR berharap hasil pendampingan tidak berhenti pada peningkatan keterampilan selama program berlangsung, tetapi berkembang menjadi kemampuan nyata kader dalam mengelola usaha, memperkuat ekonomi kelompok, dan mempertahankan keberlanjutan kegiatan Posyandu di Distrik Prafi.

Rilis: TEP 3 UNAIR

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow