Kunjungan Perdana Wisata Budaya Arfak, DPD HPI Harap Bisa Diikuti Wilayah Lain

Jan 20, 2026 - 15:15
 72
Kunjungan Perdana Wisata Budaya Arfak, DPD HPI Harap Bisa Diikuti Wilayah Lain
Kepala Biro Pelatihan dan Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi Papua Barat, Yansen Saragih.

MANOKWARI - Program Papua Produktif yang merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui pendanaan Otonomi Khusus (Otsus) terus menunjukkan dampak positif, khususnya di sektor pariwisata berbasis budaya dan pemberdayaan masyarakat.

Kepala Biro Pelatihan dan Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi Papua Barat, Yansen Saragih, menjelaskan bahwa Papua Produktif merupakan satu dari tiga pilar utama pembangunan daerah, selain Papua Sehat dan Papua Cerdas.

“Program Papua Produktif menjadi instrumen penting untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, salah satunya melalui pengembangan pariwisata berbasis potensi lokal,” ujar Yansen saat menjemput Turis asal Polandia, Selasa (20/1/2026).

Di sektor pariwisata, Dinas Pariwisata Papua Barat melalui Seksi Pemberdayaan Masyarakat telah menyelenggarakan pelatihan pengembangan paket wisata pada akhir tahun 2024 di Kampung Udhotma, wilayah Pegunungan Arfak. Program tersebut berfokus pada penyusunan paket wisata budaya yang mengangkat keunikan Suku Sougb.

Dalam paket wisata budaya ini, terdapat delapan atraksi unggulan yang ditawarkan kepada wisatawan, antara lain melihat Rumah Kaki Seribu, proses pembuatan noken, pembuatan panah dan atraksi memanah, edukasi berkebun tradisional, prosesi pernikahan adat Sougb, kuliner khas Arfak, kunjungan ke kebun kopi Bartolomeus Indey, serta menikmati panorama Danau Anggi dari Puncak Kobrey.

Hasil dari program tersebut mulai terlihat nyata pada awal tahun 2026 dengan kunjungan perdana 13 wisatawan asal Polandia. Kunjungan ini memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat setempat.

Sebanyak 52 orang warga, termasuk penari dan pelaku wisata lokal, terlibat langsung dalam pelayanan paket wisata selama dua hari. Setiap penari menerima honor sebesar Rp200.000, di samping pendapatan tambahan dari penjualan hasil bumi dan jasa lainnya.

Paket wisata yang dibanderol Rp1.300.000 per orang tersebut juga telah mencakup donasi untuk kampung, setoran bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta sumbangan untuk gereja. Jika dalam setahun terdapat 20 kali kunjungan serupa, maka diperkirakan donasi langsung untuk kampung dapat mencapai Rp26 juta.

Ke depan, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan agar kualitas pelayanan wisata tetap terjaga dan memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan. Pada tahun 2026, direncanakan akan ada tiga grup besar wisatawan lagi yang berkunjung melalui agen perjalanan yang sama.

“Model pengembangan wisata berbasis masyarakat ini diharapkan bisa direplikasi di kabupaten lain di Papua Barat, sehingga potensi pariwisata dapat dimaksimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tutup Yansen.

Penulis: Kabarnusantara.co

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow