Kader Posyandu Aimasi Mulai Kembangkan Potensi Usaha, Tim Ekspedisi Patriot Siapkan Pendampingan UMKM
MANOKWARI - Di balik aktivitas para kader Posyandu Kampung Aimasi (SP 3), Distrik Prafi, Papua Barat, tersimpan potensi ekonomi yang cukup besar. Selain aktif mendampingi pelayanan kesehatan masyarakat, sebagian kader juga telah merintis usaha rumahan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Potensi tersebut terungkap melalui kegiatan pemetaan kebutuhan kader Posyandu yang dilaksanakan pada Sabtu (15/8/2026). Kegiatan yang dilakukan Tim Pengabdian Masyarakat itu tidak hanya menggali kebutuhan kader dalam menjalankan peran di bidang kesehatan, tetapi juga memetakan peluang pengembangan kapasitas dan kemandirian ekonomi masyarakat Kampung Aimasi.
Dalam pemetaan tersebut, tim menemukan sejumlah usaha skala rumah tangga yang telah dijalankan para kader. Produk yang dihasilkan cukup beragam, mulai dari olahan pangan berbahan hasil pertanian lokal, makanan ringan, jajanan harian, hingga berbagai produk kebutuhan rumah tangga.
Meski masih berskala sederhana, aktivitas tersebut menunjukkan adanya kemauan kuat dari para kader untuk mengembangkan sumber pendapatan alternatif bagi keluarga.
“Sebenarnya ibu-ibu di sini sudah banyak yang punya usaha. Ada yang membuat makanan dari hasil kebun, ada yang menjual jajanan, dan ada juga yang menerima pesanan dari tetangga. Kami ingin usaha ini bisa lebih berkembang, tetapi masih banyak yang belum kami pahami, terutama soal kemasan dan pemasaran,” ungkap salah satu kader Posyandu Kampung Aimasi saat mengikuti kegiatan pemetaan.
Persoalan yang dihadapi bukan pada minimnya kemauan untuk berusaha. Justru, semangat para kader untuk mengembangkan usaha sudah cukup kuat. Tantangannya adalah bagaimana mengubah usaha yang masih bersifat informal dan berorientasi pada pasar sekitar menjadi usaha yang memiliki daya saing dan mampu menjangkau konsumen lebih luas.
Salah satu kendala yang ditemukan adalah pengemasan produk. Produk yang sebenarnya memiliki potensi jual belum sepenuhnya dikemas dengan cara yang mampu meningkatkan daya tarik dan nilai jual. Pemahaman mengenai masa simpan, informasi produk, pelabelan, serta tampilan kemasan juga masih perlu diperkuat.
“Kadang produk kami rasanya sudah bagus, tetapi kemasannya masih sederhana. Kalau ada yang mengajari bagaimana membuat kemasan yang lebih menarik dan aman, kami tentu ingin mencoba. Harapannya produk kami bisa dijual tidak hanya kepada tetangga, tetapi juga ke tempat lain,” ujar kader lainnya.
Selain kemasan, pemasaran menjadi tantangan berikutnya. Selama ini sebagian besar produk masih dipasarkan melalui jaringan pertemanan, tetangga, keluarga, atau pembeli yang datang langsung. Pemanfaatan media digital sebagai sarana promosi dan penjualan juga belum dilakukan secara optimal.
Kondisi tersebut menjadi peluang bagi Tim Pengabdian Masyarakat untuk merancang pendampingan yang tidak berhenti pada pelatihan teori. Program akan diarahkan berdasarkan kebutuhan nyata yang ditemukan di lapangan agar para kader dapat langsung mempraktikkan keterampilan yang diperoleh pada usaha masing-masing.
Salah satu fokus utama adalah pengembangan kemasan atau packaging. Para kader akan diperkenalkan pada prinsip dasar kemasan yang menarik, aman, informatif, dan sesuai dengan karakter produk. Kemasan tidak hanya dipandang sebagai pembungkus, tetapi juga sebagai bagian dari identitas sekaligus strategi pemasaran.
Tim juga menyiapkan pelatihan pemasaran digital secara praktis. Para kader akan didorong memanfaatkan media sosial dan berbagai kanal digital sederhana untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen yang lebih luas.
“Kami tidak ingin memberikan pelatihan yang terlalu teoritis. Kalau kader belajar pemasaran digital, mereka harus bisa langsung mempraktikkannya untuk produk mereka sendiri, mulai dari mengambil foto produk, membuat narasi sederhana, sampai mempromosikannya melalui media digital,” jelas tim pengabdian.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah manajemen keuangan usaha. Berdasarkan hasil pemetaan, masih terdapat kebutuhan untuk meningkatkan pemahaman mengenai pencatatan pemasukan dan pengeluaran, perhitungan modal, harga pokok produksi, hingga penentuan harga jual.
Kemampuan tersebut diperlukan agar para kader dapat mengetahui apakah usaha yang dijalankan benar-benar memberikan keuntungan. Tim pengabdian juga menilai pentingnya membangun pemahaman bahwa keuangan usaha perlu dipisahkan dari keuangan rumah tangga.
“Kadang uang hasil jualan langsung digunakan untuk kebutuhan rumah. Kami ingin belajar bagaimana menghitung modal dan keuntungan dengan benar, supaya tahu berapa yang bisa diputar kembali untuk usaha,” tutur salah seorang kader.
Program pemberdayaan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis para kader, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri perempuan untuk menjadi pelaku usaha. Kader Posyandu yang selama ini berperan dalam mendukung kesehatan masyarakat di tingkat kampung memiliki peluang untuk sekaligus menjadi penggerak ekonomi keluarga dan komunitas.
Jika usaha yang telah dirintis dapat berkembang, manfaatnya diharapkan tidak hanya dirasakan oleh individu kader. Peningkatan pendapatan berpotensi memperkuat ekonomi keluarga, membuka peluang kerja baru, serta mendorong perputaran ekonomi lokal di Kampung Aimasi dan Distrik Prafi.
Pengembangan produk berbasis potensi lokal juga dapat menjadi langkah untuk memperkenalkan hasil pangan dan kreativitas masyarakat Prafi kepada pasar yang lebih luas. Dengan pendampingan yang konsisten, usaha rumah tangga yang awalnya sederhana diharapkan dapat berkembang menjadi UMKM yang lebih tertata, memiliki identitas produk, dan mampu bersaing.
Dari perspektif Sustainable Development Goals (SDGs), kegiatan ini memiliki keterkaitan dengan SDG 1 tentang Tanpa Kemiskinan melalui upaya memperkuat sumber pendapatan dan ketahanan ekonomi keluarga. Pengembangan usaha juga mendukung SDG 5 tentang Kesetaraan Gender dengan memperkuat posisi dan kapasitas perempuan sebagai pelaku ekonomi sekaligus penggerak pembangunan di tingkat komunitas.
Program tersebut juga sejalan dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi karena mendorong tumbuhnya usaha produktif, peningkatan keterampilan kewirausahaan, dan penguatan ekonomi lokal berbasis potensi masyarakat.
“Harapan kami, usaha yang sudah dimiliki kader tidak berhenti sebagai usaha sampingan. Dengan pendampingan yang tepat, kami ingin membantu mereka menemukan potensi produknya, memperbaiki cara pengelolaannya, dan membuka akses pasar yang lebih luas. Yang paling penting, prosesnya harus sesuai dengan kondisi dan kemampuan masyarakat setempat,” ungkap tim pengabdian.
Ke depan, hasil pemetaan kebutuhan tersebut akan menjadi dasar penyusunan program pendampingan UMKM yang bertahap dan berkelanjutan. Pendampingan akan diarahkan tidak hanya pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga penguatan kapasitas pengelolaan usaha, pemasaran, dan keuangan.
Melalui langkah tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat berharap para kader Posyandu Kampung Aimasi semakin berdaya, baik dalam menjalankan peran sosial di bidang kesehatan maupun dalam mengembangkan potensi ekonomi keluarga.
Dari rumah-rumah sederhana di SP 3, usaha kecil para kader diharapkan dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi baru yang memberi manfaat bagi keluarga sekaligus masyarakat Prafi secara lebih luas.
Sumber: Rilis Ekspedisi Patriot Unair
What's Your Reaction?



