[FUTURE] Mengejar Literasi Anak-Anak di Pulau Peradaban Tanah Papua

Sep 22, 2023 - 01:44
Sep 22, 2023 - 01:45
 23
[FUTURE] Mengejar Literasi Anak-Anak di Pulau Peradaban Tanah Papua
Bhrisco Jordy bersama anak-anak di Pulau Mansinam (Tri Santoso)
[FUTURE] Mengejar Literasi Anak-Anak di Pulau Peradaban Tanah Papua

MANOKWARI, Kabarnusantara.co - Pandemi Covid-19 sempat menyurutkan semangat belajar anak-anak di Pulau peradaban orang papua Mansinam. Ketidak mampuan orang tua untuk menyediakan pembelajaran secara online menjadi salah satu sebab. 

Atas landasan tersebutlah yang menggerakan Bhrisko Jordi yang kala itu hanya berniat mengunjungi situs perkabaran injil di tanah Papua yang ada di pulau tersebut, melihat kondisi yang cukup memprihatinkan.

"Awalnya hanya ingin berjalan-jalan, namun melihat kondisi anak-anak tanpa pembelajaran kemudian menggerakan hati saya untuk memberikan pembelajaran literasi," Cerita Jordy saat berbincang bersama Kabarnusantara.co.

Papua future project sendiri merupakan lembaga yang dibentuk Jordy untuk fokus pada literasi yang ada di Pulau yang berjarak 7,8 Kilometer dari pusat kota Manokwari tersebut. 

Bahkan, lanjut Jordy, masih didapati anak pada tingkatan sekolah menengah yang belum bisa membaca dengan baik, meski berdiri Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) satu atap didaratan yang sama di pulau tersebut. 

"Dalam memberikan pelajaran kepada anak-anak, kami tidak memaksa mereka mengikuti standar di pusat namun langsung ke permasalahan seperti membaca dan menulis," tuturnya. 

Dengan bantuan beberapa teman san sukarelawan yang setiap Sabtu akhir pekan, tercatat ada 100 anak yang mengikuti pembelajaran yang mereka berikan. 

Tanpa bayaran dari siapapun, bahkan mereka harus merogoh kocek untuk bisa memberikan pengabdian di dunia pendidikan, hanya mengharapkan balasan dari sang pencipta yang tidak pernah ingkar janjinya untuk kebaikan. 

Perjalanan ke pulau Mansinam 

Sabtu (16/9/2023) Siang Jordy dan beberapa teman yang tergabung dalam Papua Future Porject sudah sibuk menyiapkan perlengkapan mengajar dan bekal sebelum perjalanan.

Bekal dua kantong kresek yang sekilas terlihat berisi makan siang yang terbungkus rapi dalam kotak, air minum kemasan dan beberapa jenis camilan yang sengaja disisipkan untuk memberi semangat belajar anak-anak.

Dengan menempuh jarak laut sekitar 7,8 kilometer atau 15 menit dari pelabuhan Ketapang, Arowi, Manokwari sebelum tiba di pulau dimana patung kristus raja berada. 

Begitu perahu mendarat diatas pasir, rombongan kami disambut oleh 5 anak yang seakan sudah tahu kami akan datang dengan melihat barang bawaan yang bisa mereka bantu.

Dipulau tersebut terdapat cukup banyak bangunan, mulai dari gereja, temoat ibadah akbar, dan museum yang kosong. Kondisi tersebut berbanding 180 derajat jika mendekati peringatan perkabaran injil.

Kondisi Sekolah di Mansinam

SD/SMP Satap 20 Mansinam memiliki gedung dan ruangan yang cukup baik, namun permasalahan kekurangan guru pengajar menjadikan proses belajar mengajar tidak maksimal. 

"Informasi yang kami terima dari kepala sekolah, hanya 4 guru yang aktif datang ke Pulau untuk mengajar, semua guru berasal dari Manokwari sehingga harus menyeberang laut," ujar dia saat menceritakan kondisi pendidikan disana. 

Selain kurang guru, masalah lain yaitu pada mode transportasi laut yang ditumpangi para guru merupakan transportasi umum yang masih harus menunggu penumpang yang cukup untuk bisa mengantar penyeberangan. 

Keterlambatan guru datang di sekolah memang disebabkan transportasi umum, sehingga para siswa harus menunggu lama sebelum masuk ke kelas. 

"Dulu ada perahu sekolah, entah apa penyebabnya sekarang sudah tidak beroperasi lagi," kata dia mencoba menjelaskan. 

Pembelajaran dari Papua future project

Setiap pekan, jelas Jordy, dirinya bersama beberapa volunter mengajar anak-anak pulau mansinam yang dipusatkan dilokasi ibadah perkabaran injil 5 Februari. 

Diatas panggung dari papan yang 50 persennya telah rusak termakan usia, panggung papan itu merupakan peninggalan ibadah akbar peringatan 5 Februari Tahun 2018 yang dibuat karena hadirnya presiden Soesilo Bambang Yudhoyono kala itu.

Dengan jumlah kehadiran anak-anak yang selalu berubah, meraka dibentuk dalam tiga kelompok yakni kelompok dasar berisi anak-anak usia TK dan Paud yang lebih senang menggambar, kelompok menengah untuk mereka yang ingin melancarakan diri untuk membaca dan menulis, dan kelompok atas dihuni usia SMP dengan materi belajar yang lebih berat.

'Totalnya memang 100 anak, tapi yang hadir selalu berubah kadang 50 anak, kadang juga hanya 20 anak yang datang," sebut dia sambil menunjuk kelompok belajar. 

Proses belajar tidak langsung pada materi, sengaja dengan memberikan permainan agar semangat belajar mereka bisa perlahan meningkat.

Bahkan beberapa permainan yang diberikan sudah cukup fasih dilakukan anak-anak karena pengajar yang mungkin kehabisan ide permainan setiap pekan. 

Harapan besar Jordy san Volunter

Dengan kondisi tersebut Jordy memiliki harapan besar, dimana ada perhatiam serius pemerintah melihat pendidikan di pulau tersebut.

Sejarah panjang Pulau Mansinam sebagai titik pertama kali peradaban berupa agama kristen disebarkan, seharusnya tidak perlu terulang kembali. 

"Padahal mansinam ini masuk dalam wilayah pusat kota Manokwari, seharuanya ada perhatian serius yang diberikan kepada anak-anak disini," harap pria yang menginisiasi pembentukan lembaga Papua future project tersebut. 

Anak-anak Pulau Mansinam sebagai generasi Papua dimasa depan, pendidikan menjadi kunci utama yang bisa dijadikan landasan kuat untuk melakukan pembangunan. 

Menjadi peran semua pihak, bukan hanya Jordy ataupun Papua Future Projet, jaminan pendidikan anak-anak Papua berada di pundak kita semua.

Oleh: Tri Adi Santoso

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow