Tim Ekspedisi Patriot Unair Perkuat Toleransi Lewat Silaturahmi dengan Tokoh Agama di Prafi
MANOKWARI - Mengawali rangkaian pengabdian selama empat bulan di Kawasan Transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi Mitra Universitas Airlangga (Unair) bersilaturahmi dengan tokoh agama sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah, K.H. Abdul Kholiq Buchqori, di SP 3 Prafi, Minggu (2/8/2026).
Kunjungan tersebut menjadi langkah awal tim untuk mengenal kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat sebelum menjalankan berbagai program pemberdayaan. Melalui pendekatan ini, tim berharap setiap program yang dilaksanakan dapat selaras dengan kebutuhan masyarakat sekaligus menghormati nilai-nilai, budaya, dan keberagaman yang telah tumbuh di kawasan transmigrasi.
Tim Ekspedisi Patriot dipimpin dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Dr. Muthmainnah, S.KM., M.Kes., didampingi Sri Rahmawati, Elisa Manihuruk, Imeldawati Tambunan, Widyasari Yuni Agustin, dan Anggun Anggifosari.
Kedatangan rombongan disambut hangat oleh K.H. Abdul Kholiq Buchqori beserta keluarga. Dalam suasana penuh keakraban, kedua belah pihak berdiskusi mengenai sejarah masyarakat transmigrasi Prafi, kehidupan keagamaan, hingga pentingnya menjaga harmoni di tengah keberagaman suku, budaya, dan agama.
Dalam kesempatan itu, K.H. Abdul Kholiq Buchqori menegaskan bahwa kerukunan dan toleransi merupakan fondasi utama kehidupan masyarakat Prafi.
"Kita boleh berbeda agama, suku, dan asal daerah, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat kita tetap bersaudara. Yang perlu dijaga adalah saling menghormati, tidak mengganggu ibadah orang lain, dan selalu mengedepankan kebaikan. Program apa pun akan lebih mudah berhasil apabila masyarakat hidup rukun dan saling membantu," ujarnya.
Menurutnya, masyarakat Prafi telah lama hidup berdampingan dalam keberagaman sehingga komunikasi yang baik dan sikap saling menghargai menjadi kunci menjaga keharmonisan.
Ia menambahkan, moderasi beragama tidak cukup diwujudkan melalui ucapan, tetapi harus tercermin dalam tindakan sehari-hari, seperti menghormati perbedaan, membantu sesama tanpa memandang agama, serta menyelesaikan persoalan melalui musyawarah.
K.H. Abdul Kholiq Buchqori juga mengingatkan agar seluruh program pemberdayaan melibatkan semua unsur masyarakat.
"Datanglah kepada masyarakat dengan niat belajar dan mengabdi. Dengarkan semua pihak, rangkul tokoh agama, tokoh adat, pemuda, perempuan, dan pemerintah kampung. Jangan melihat perbedaan sebagai batas. Jadikan perbedaan sebagai jalan untuk saling mengenal dan menguatkan," pesannya.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot, Dr. Muthmainnah, mengatakan silaturahmi dengan tokoh agama merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat sebelum program dilaksanakan.
"Kami tidak hanya datang membawa program, tetapi juga ingin belajar memahami masyarakat Prafi. Dukungan tokoh agama sangat penting karena keberhasilan pemberdayaan dibangun dari kepercayaan, komunikasi, dan rasa saling menghormati," katanya.
Ia menjelaskan, seluruh program akan dijalankan dengan pendekatan partisipatif melalui pelibatan masyarakat sejak tahap identifikasi kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi.
Tim juga akan berkolaborasi dengan Puskesmas, pemerintah kampung, tokoh agama, tokoh adat, kader kesehatan, kelompok perempuan, pemuda, serta pelaku usaha agar program kesehatan dan penguatan ekonomi berjalan sesuai kondisi sosial budaya masyarakat.
"Kami berharap program kesehatan, penguatan kader, dan pemberdayaan ekonomi dapat menjadi ruang bersama. Ketika masyarakat dari berbagai latar belakang bekerja dalam satu tujuan, bukan hanya hasil program yang diperoleh, tetapi juga semakin kuatnya persatuan dan kepedulian antarsesama," ujar Muthmainnah.
Pada akhir pertemuan, K.H. Abdul Kholiq Buchqori mengundang Tim Ekspedisi Patriot untuk menghadiri kegiatan pengajian sebagai bentuk keterbukaan dan dukungan terhadap pelaksanaan pengabdian di Prafi.
Silaturahmi tersebut dinilai sejalan dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh melalui penguatan toleransi dan pencegahan konflik sosial.
Pelibatan seluruh unsur masyarakat tanpa membedakan agama, suku, maupun asal daerah juga mendukung SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan. Sementara terciptanya kehidupan yang harmonis di kawasan transmigrasi menjadi bagian dari SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan.
Kolaborasi antara Tim Ekspedisi Patriot, tokoh agama, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat juga mencerminkan implementasi SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Pertemuan ditutup dengan doa bersama untuk memohon kelancaran, keselamatan, dan keberhasilan seluruh rangkaian kegiatan Tim Ekspedisi Patriot selama empat bulan di Kawasan Transmigrasi Prafi.
Bagi tim, silaturahmi tersebut menjadi fondasi awal dalam membangun kepercayaan, memperkuat semangat moderasi beragama, serta meneguhkan komitmen bahwa seluruh program pemberdayaan akan dilaksanakan secara inklusif, mengedepankan toleransi, dan memperkuat gotong royong di tengah masyarakat.
Sumber: Rilis
What's Your Reaction?

