BMKG Prediksi Hujan Mulai Akhir Oktober, 11 Ribu Titik Kebakaran Terdeteksi di Papua Barat

Oct 14, 2026 - 16:24
 11
BMKG Prediksi Hujan Mulai Akhir Oktober, 11 Ribu Titik Kebakaran Terdeteksi di Papua Barat
Kepala Badan Klimatologi Kelas III Papua Barat, Sony Hartono (Foto: Rustam Madubun)

MANOKWARI - Badan Klimatologi Papua Barat memprediksi sejumlah wilayah di Papua Barat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai memasuki musim hujan pada dasarian III Oktober atau sekitar tanggal 20-an. Hujan di wilayah tersebut diperkirakan meningkat secara bertahap hingga November dan Desember.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas III Papua Barat, Sony Hartono, S.Si., M.Si., mengatakan, wilayah Bomberay dan sekitarnya, termasuk sebagian wilayah Kabupaten Manokwari Selatan, Kaimana, dan Fakfak, diprediksi mulai memasuki musim hujan pada akhir Oktober. Pernyataan itu disampaikan usai briefing Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Bandara Rendani, Manokwari, Rabu (14/10/2026).

Menurut Sony, hujan yang terjadi beberapa hari terakhir belum menunjukkan awal musim hujan karena intensitasnya belum konsisten. Hujan dapat turun sesekali, bahkan lebat, tetapi belum berlangsung secara rutin seperti ketika musim hujan telah tiba.

“Ketika musim hujan sudah tiba, hujannya akan konsisten. Sedikit, kadang ada yang lebat, kemudian tiap hari mungkin akan ada hujan, hampir setiap hari,” jelasnya.

Sony mengungkapkan, wilayah Momi Waren di Manokwari Selatan, bagian barat Kaimana, dan sebagian wilayah timur Fakfak merupakan kawasan yang relatif kering dibandingkan wilayah lainnya. Kondisi iklim tersebut membuat kawasan itu rentan mengalami karhutla saat musim kemarau, terlebih ketika diperparah fenomena El Niño yang masih berlangsung.

BMKG mencatat sekitar 11.000 titik kebakaran terdeteksi di kawasan tersebut selama periode 1–12 Oktober 2026. Asap dari kebakaran itu turut menyebar ke berbagai wilayah Papua Barat. Selain itu, kebakaran masif di wilayah Papua Selatan, terutama sekitar Merauke dan daerah perbatasannya, juga menjadi sumber asap yang terbawa angin hingga ke Papua Barat.

Sony menjelaskan, arah angin timuran yang cukup kuat menyebabkan asap dari wilayah selatan bergerak melalui Timika, Kaimana, dan Fakfak. Pada pekan sebelumnya, asap tersebut mencapai Manokwari dan menyebabkan kondisi udara memburuk. Namun, dalam beberapa hari terakhir, perubahan pola angin membuat asap lebih banyak bergerak ke arah Maluku sehingga kabut asap di Manokwari mulai berkurang.

“Pekan ini angin timurnya sangat kuat, sehingga asap tidak bergerak ke arah Manokwari lagi. Asap dari wilayah selatan cenderung terus bergerak ke arah Maluku,” katanya.

Terkait penanganan karhutla, Sony menilai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi salah satu upaya yang dapat membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan untuk mendukung pemadaman kebakaran. Ia berharap hujan yang mulai turun pada akhir Oktober dapat membantu mengurangi titik kebakaran sekaligus menekan sebaran asap di Papua Barat.

BMKG dijadwalkan menyampaikan prediksi musim hujan untuk wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya secara daring pada Kamis (15/10/2026) pukul 09.00 WIT. Dalam pemaparan tersebut, BMKG juga akan menjelaskan perkembangan prakiraan musim hujan di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Papua Selatan yang diperkirakan baru memasuki musim hujan pada Desember.

Dengan mulai masuknya musim hujan di sejumlah wilayah Papua Barat, diharapkan risiko karhutla dan dampak kabut asap dapat berangsur menurun dalam beberapa bulan mendatang.

Penulis: Kabarnusantara.co

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow