Stok Bapok di Papua Barat Aman dan Harga Terkendali
MANOKWARI – Pemerintah Provinsi Papua Barat memastikan ketersediaan stok bahan pokok (bapok) dan stabilitas harga pangan tetap terjaga menjelang momen Hari Raya Idulfitri 2026. Meski terdapat fluktuasi harga pada beberapa komoditas, kondisi pasar secara umum dinilai masih dalam batas normal.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Papua Barat, Bondan Santoso, menyatakan bahwa ketahanan pangan daerah saat ini berada dalam posisi yang kuat. Hal ini disampaikannya usai mengikuti apel gabungan di lingkup Pemerintah Provinsi Papua Barat, Jumat (13/3/2026).
Salah satu fokus utama pemerintah adalah ketersediaan beras. Berdasarkan data terbaru, stok beras di gudang Bulog masih sangat mencukupi untuk kebutuhan masyarakat.
Stok di Pelabuhan: Tersedia 500 ton yang siap didistribusikan.
Dalam Perjalanan: Terdapat tambahan pasokan sebanyak 100 ton.
Beras Premium: Stok beras merek lain di pasaran juga dilaporkan tersedia dalam jumlah yang cukup.
"Secara kesiapan menghadapi momen Idulfitri, stok bapok di Papua Barat masih sangat kuat," ujar Bondan.
Mengenai pergerakan harga, Bondan menjelaskan bahwa fluktuasi harga menjelang hari besar keagamaan seperti Idulfitri maupun Nataru adalah fenomena tahunan yang wajar. Khusus di Papua Barat, kenaikan yang terjadi masih dalam kategori normal.
Beberapa faktor yang memengaruhi kenaikan harga, terutama untuk komoditas seperti cabai (rica) dan sayuran, antara lain:
Faktor Iklim: Curah hujan yang tinggi memengaruhi hasil panen.
Permintaan Harian: Adanya kebutuhan rutin untuk program Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang memerlukan pasokan bumbu dan sayuran setiap hari.
Untuk komoditas telur, Papua Barat kini didukung oleh peningkatan produktivitas peternak lokal serta distribusi yang lancar dari luar daerah.
"Peredaran telur sangat banyak sehingga kebutuhan masyarakat hingga hari raya nanti dipastikan terpenuhi," tambah Bondan.
Terkait harga, telur lokal saat ini berada di kisaran Rp75.000 hingga Rp76.000. Menjelang hari raya, harga diprediksi bisa mencapai Rp80.000 hingga Rp90.000. Sementara itu, harga telur impor cenderung lebih stabil di pasaran.
Menutup keterangannya, Bondan Santoso menegaskan bahwa dinamika harga yang terjadi murni karena faktor domestik dan siklus hari raya, bukan karena pengaruh eksternal global.
"Kenaikan harga dan dinamika stok saat ini murni karena fenomena hari besar, bukan dampak dari konflik yang terjadi di belahan dunia lain," tandasnya.
Penulis : kabarnusantara.co
What's Your Reaction?

