OJK Catat Lonjakan Investor Pasar Modal 35 Persen, Literasi Keuangan Masih Jadi Tantangan

Jun 30, 2026 - 20:12
 6
OJK Catat Lonjakan Investor Pasar Modal 35 Persen, Literasi Keuangan Masih Jadi Tantangan
Journalist Update perkembangan sektor jasa keuangan Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya (Tri Santoso)

MANOKWARI - Pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik di Papua Barat dan Papua Barat Daya serta inflasi yang tetap terkendali turut mendorong peningkatan aktivitas sektor jasa keuangan. Salah satu indikatornya terlihat dari melonjaknya jumlah investor di pasar modal.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan jumlah Single Investor Identification (SID) di Papua Barat dan Papua Barat Daya mencapai 46.628 per April 2026, meningkat 35,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 34.528 SID.

Selain pertumbuhan jumlah investor, rekening investasi saham juga menunjukkan tren yang terus meningkat. Dalam kurun dua tahun terakhir, jumlah rekening saham hampir dua kali lipat, dari 9.971 rekening pada April 2024 menjadi 17.742 rekening pada April 2026. Nilai transaksi saham juga mengalami tren kenaikan dengan puncak aktivitas yang terlihat pada awal 2026.

Kepala OJK Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya, Budi Rahman, mengatakan peningkatan jumlah investor merupakan perkembangan yang positif. Namun, pertumbuhan tersebut harus diimbangi dengan meningkatnya tingkat literasi keuangan masyarakat.

"Harapan kami ke depan, masyarakat tidak hanya memiliki produk jasa keuangan, tetapi juga memahami instrumen investasi yang dimiliki. Jangan sampai masyarakat hanya ikut-ikutan karena pengaruh figur publik atau influencer tanpa memahami risiko investasi," ujarnya, dalam Journalist Update OJK, di Manokwari, Selasa (30/6/2026).

Menurut Budi, saham merupakan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan sehingga investor harus memahami kondisi fundamental perusahaan sebelum berinvestasi.

"Kalau fundamental perusahaan buruk atau harga saham dimanipulasi, tentu hal tersebut dapat merugikan masyarakat. Karena itu, pemahaman terhadap risiko investasi sangat penting," katanya.

Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK), tingkat literasi masyarakat terhadap pasar modal memang mengalami peningkatan. Pada 2024 tingkat literasi pasar modal tercatat sebesar 15,43 persen, kemudian naik menjadi 17,78 persen pada 2025.

Meski meningkat, angka tersebut masih jauh tertinggal dibandingkan tingkat literasi di sektor perbankan yang pada 2025 telah mencapai 65,50 persen.

Artinya, dari setiap 100 orang, baru sekitar 18 orang yang memahami produk pasar modal, sedangkan sekitar 65 orang telah memahami produk perbankan.

OJK berharap media massa dapat menjadi mitra strategis dalam meningkatkan edukasi keuangan kepada masyarakat. Dengan demikian, pertumbuhan jumlah investor dan kepemilikan saham dapat berjalan seiring dengan meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap manfaat, risiko, dan karakteristik investasi di pasar modal.

Data mengenai pertumbuhan SID, aset, tabungan, dan kredit bersumber dari OJK sebagai otoritas pengawas sektor jasa keuangan. Sementara itu, indeks literasi dan inklusi keuangan diperoleh melalui Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK), yang merupakan kerja sama OJK dengan Badan Pusat Statistik (BPS).

Penulis: Kabarnusantara.co

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow