IKAMA Manokwari Gelar Maulid Nabi, Tradisi 'Arebbuan' Meriahkan Peringatan

Aug 24, 2026 - 20:34
 28
IKAMA Manokwari Gelar Maulid Nabi, Tradisi 'Arebbuan' Meriahkan Peringatan
Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW warga Madura di Kabupaten Manokwari (Tri Santoso)

MANOKWARI - Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) Manokwari bersama Majelis Taklim Az-Zahra dan Majelis Taklim Nurul Hidayah menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah di Kompleks Borobudur, Manokwari, Senin (24/8/2026).

Peringatan Maulid Nabi tahun ini mengangkat tema “Meneladani Akhlak dan Meningkatkan Cinta kepada Rasulullah SAW.” Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan menjadi momentum mempererat silaturahmi warga Madura di Manokwari.

Salah satu tradisi yang turut memeriahkan kegiatan tersebut adalah Arebbuan, yakni tradisi berebut buah-buahan, atau bingkisan yang digantung pada tali maupun tiang setelah rangkaian doa dan shalawat.

Ketua IKAMA Manokwari, Irianto Samsu, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Banyak-banyak terima kasih atas kegiatan ini. Kegiatan ini bersumber dari swadaya masyarakat kami dalam internal Kerukunan Keluarga Madura,” ujarnya.

Ia mengatakan, pelaksanaan Maulid Nabi kali ini melibatkan Majelis Taklim Nurul Hidayah dan Majelis Taklim Az-Zahra yang selama ini aktif menggerakkan kegiatan keagamaan di lingkungan masyarakat.

Irianto juga memberikan apresiasi kepada Ketua Pemuda IKAMA Kabupaten Manokwari yang dinilai berperan dalam menggerakkan generasi muda sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan baik.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan semakin baik pada tahun-tahun mendatang.

“Apabila umur panjang dan ekonomi baik-baik saja, insya Allah ke depan kita akan adakan di gedung. Tetapi dalam keadaan sekarang ini ekonomi tidak baik-baik saja, jadi kita maklumi keadaan yang ada saat ini,” katanya.

Menurutnya, kebersamaan dan semangat gotong royong menjadi kekuatan utama dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan mendapat rahmat dan ridha Allah SWT serta silaturahmi warga Madura tetap terjaga.

Sementara itu, Ketua Majelis Taklim Nurul Hidayah, Muhammad Nasir, menjelaskan bahwa tradisi Arebbuan merupakan bagian dari budaya masyarakat Madura dalam peringatan Maulid Nabi.

Menurutnya, bagi masyarakat di luar Madura, tradisi berebut buah atau makanan tersebut mungkin terlihat tidak biasa. Namun, tradisi itu memiliki makna tersendiri.

Ia mengibaratkan buah yang diperebutkan sebagai gambaran syafaat Rasulullah SAW.

“Syafaat itu tidak akan datang kalau kita tidak mencari. Sama dengan buah, kalau kita tidak berebut, kita tidak akan dapat,” jelasnya.

Nasir menegaskan, tradisi tersebut tetap dapat dilaksanakan selama tidak bertentangan dengan syariat Islam dan dilakukan dalam batas-batas yang wajar.

Ia mengatakan, setiap daerah memiliki cara dan tradisi berbeda dalam memperingati Maulid Nabi. Di Makassar, misalnya, terdapat tradisi telur, sementara di Singkawang terdapat tradisi melepaskan burung merpati ketika memasuki mahalul qiyam.

“Untuk kita saat ini, umumnya berebut buah itu ketika mahalul qiyam, saat pembacaan ‘Ya Nabi Salam ‘Alaika’. Tapi ini belum mahalul qiyam, buahnya sudah habis. Tidak apa-apa, yang penting tidak menabrak atau melanggar hal-hal yang telah disyariatkan oleh Allah SWT,” tuturnya.

Peringatan Maulid Nabi tersebut tidak hanya menjadi sarana memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ruang bagi warga Madura di Manokwari untuk mempererat persaudaraan, menjaga tradisi, serta membangun kebersamaan lintas generasi.

Penulis: Kabarnusantara.co

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow