Dari Kader untuk Kader, SMART Posyandu TEP UNAIR Susun Program Berbasis Kebutuhan

Aug 23, 2026 - 14:06
 8
Dari Kader untuk Kader, SMART Posyandu TEP UNAIR Susun Program Berbasis Kebutuhan
SMART Posyandu TEP UNAIR Susun Program Berbasis Kebutuhan (Red)

MANOKWARI - Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (UNAIR) melalui program SMART Posyandu–Penguatan Ekonomi Keluarga Kader melaksanakan needs assessment bersama kader Posyandu di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk memetakan kebutuhan nyata kader sekaligus menentukan bentuk pendampingan yang paling sesuai dalam memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak di tingkat masyarakat.

Kegiatan melibatkan Ketua Tim Ekspedisi Patriot UNAIR, Dr. Muthmainnah, S.KM., M.Kes., bersama Sri Rahmawati, S.Psi., M.Si.; Surma Elisa Manihuruk, S.KM., M.Kes.; Anggun Anggifosari, S.I.Kom.; Imeldawaati Tambunan, S.KM.; dan Widyasari Yuni Agustin, S.T.

Asesmen dilakukan bersama kader di sela pelayanan Posyandu. Dengan demikian, berbagai persoalan dapat digali langsung berdasarkan pengalaman kader ketika berinteraksi dengan ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita.

Suasana diskusi berlangsung terbuka dan interaktif. Para kader diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman, hambatan, serta kebutuhan yang selama ini mereka hadapi. Pendekatan tersebut dilakukan agar program pendampingan tidak hanya berangkat dari asumsi tim, tetapi benar-benar berdasarkan kondisi di lapangan.

Dari hasil diskusi, tim menemukan sejumlah kebutuhan utama, di antaranya penyegaran materi edukasi gizi, media komunikasi yang lebih visual dan mudah dipahami, pendampingan teknis pencatatan pelayanan, serta pengembangan variasi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis bahan pangan lokal.

Konsistensi kehadiran ibu dan balita dalam kegiatan Posyandu juga menjadi salah satu tantangan yang banyak disampaikan kader.

Dr. Muthmainnah menjelaskan, kader merupakan pihak yang paling memahami karakteristik keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya. Karena itu, mendengarkan kebutuhan kader menjadi langkah penting sebelum menentukan bentuk intervensi.

“Program yang baik bukan hanya datang membawa kegiatan, tetapi dimulai dengan mendengarkan. Kader yang setiap hari dekat dengan masyarakat justru mengetahui apa yang paling mereka butuhkan. Dari situlah kami menyusun pendampingan agar lebih relevan dan dapat dilanjutkan setelah program selesai,” ungkap Muthmainnah.

Anggota Tim Ekspedisi Patriot UNAIR, Surma Elisa Manihuruk, S.KM., M.Kes., menambahkan bahwa kader memiliki peran strategis sebagai penghubung antara layanan kesehatan dan keluarga di tingkat komunitas.

“Kader paling memahami kondisi keluarga di wilayahnya. Karena itu, kami ingin setiap kegiatan yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan mereka, bukan sekadar membawa program dari luar tanpa melihat kondisi yang mereka hadapi sehari-hari,” jelasnya.

Kebutuhan media edukasi juga menjadi perhatian tim. Anggun Anggifosari, S.I.Kom., mengatakan penyampaian pesan kesehatan kepada masyarakat akan lebih efektif apabila didukung visual yang sederhana, menarik, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Kader menyampaikan bahwa materi kesehatan akan lebih mudah diterima warga jika menggunakan gambar, contoh sederhana, dan bahasa yang mudah dipahami. Ini menjadi masukan penting dalam menyiapkan media edukasi yang nantinya benar-benar bisa digunakan saat pelayanan Posyandu,” ujarnya.

Salah seorang kader mengungkapkan, tantangan yang dihadapi bukan hanya memberikan penjelasan mengenai gizi, tetapi juga menerjemahkan pesan kesehatan menjadi contoh yang mudah dipraktikkan keluarga.

“Kadang kami sudah menjelaskan tentang gizi, tetapi ibu-ibu masih bingung makanan apa yang bisa diberikan kepada anak. Kalau ada contoh menu, gambar, dan cara membuat PMT dari bahan yang ada di sini, kami akan lebih mudah menjelaskannya kepada masyarakat,” ungkapnya.

Kader lainnya menyoroti pentingnya kesinambungan pendampingan. Menurutnya, pelatihan akan lebih bermanfaat apabila keterampilan yang diperoleh dapat terus diterapkan secara mandiri.

“Kami ingin belajar membuat PMT dari bahan yang mudah didapat di sini. Jadi bukan hanya saat ada kegiatan, tetapi setelah pendampingan selesai kami tetap bisa membuatnya dan mengajarkannya kepada ibu-ibu yang datang ke Posyandu,” tuturnya.

Hasil needs assessment tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan tindak lanjut program. Tim Ekspedisi Patriot UNAIR merancang sejumlah kegiatan pendampingan, meliputi praktik pengolahan PMT bergizi berbasis pangan lokal, penguatan keterampilan komunikasi kader, pengembangan media edukasi, serta dukungan teknis pencatatan dan pelayanan sesuai kebutuhan Posyandu.

Pendekatan tersebut menempatkan kader bukan sekadar sebagai penerima program, tetapi sebagai mitra dalam merancang solusi. Pengalaman kader saat melakukan penimbangan, memberikan penyuluhan, memantau pertumbuhan anak, melakukan pencatatan, hingga mengajak masyarakat datang ke Posyandu menjadi sumber informasi utama dalam menentukan arah kegiatan.

Program SMART Posyandu juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Penguatan pelayanan kesehatan ibu dan anak mendukung SDG 3: Good Health and Well-being, sementara peningkatan kualitas PMT, pemanfaatan pangan lokal, dan pencegahan stunting berkaitan dengan SDG 2: Zero Hunger.

Pemberdayaan kader yang mayoritas perempuan turut mendukung SDG 5: Gender Equality, terutama melalui peningkatan kapasitas dan kepemimpinan perempuan di tingkat komunitas. Sementara kolaborasi antara Tim Ekspedisi Patriot UNAIR, kader Posyandu, masyarakat, dan pemangku kepentingan lokal menjadi bagian dari implementasi SDG 17: Partnerships for the Goals.

Melalui SMART Posyandu, Tim Ekspedisi Patriot UNAIR berharap Posyandu tidak hanya menjadi tempat pemantauan pertumbuhan anak, tetapi berkembang menjadi ruang belajar keluarga, pusat edukasi kesehatan, sekaligus penggerak pemberdayaan masyarakat.

Bagi tim, keberhasilan program bukan semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari sejauh mana kader mampu melanjutkan pengetahuan, keterampilan, dan inovasi yang telah dikembangkan bersama.

Dengan kader yang semakin percaya diri dan didukung sarana yang sesuai kebutuhan, Posyandu di Distrik Prafi diharapkan semakin kuat dalam mendukung tumbuh kembang anak serta mewujudkan keluarga yang sehat, mandiri, dan berdaya.

Sumber: Rilis TEP Unair Kementrian Transmigrasi

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow