Bupati Teluk Wondama Lirik Inovasi Digital TEP-19 UI, Siap Adopsi "Ketuk Pintu Sayang Mama"
TELUK WONDAMA - Tim Ekspedisi Patriot (TEP)-19 Universitas Indonesia (UI) mengembangkan instrumen digital Kartu Bantu Integrasi Layanan Primer (ILP) untuk memperkuat pencatatan kesehatan masyarakat di wilayah terpencil. Inovasi ini mendapat perhatian Bupati Teluk Wondama, Elysa Auri, yang menyatakan akan mengadopsinya untuk mendukung program Ketuk Pintu Sayang Mama.
Ketertarikan tersebut disampaikan Elysa Auri saat menyaksikan demonstrasi instrumen digital yang dikembangkan TEP-19 UI di Balai Kampung Werianggi, Distrik Nikiwar, Kabupaten Teluk Wondama.
Instrumen tersebut dirancang untuk membantu pencatatan kunjungan, pemetaan masalah kesehatan berdasarkan lokasi, serta perencanaan tindak lanjut pelayanan kesehatan masyarakat, termasuk di wilayah dengan keterbatasan akses internet.
Di bawah kepemimpinan Ketua TEP-19 UI, dr. Trevino Aristarkus Pakasi, FS, MS, Sp.KKLP, PhD, tim memadukan penguatan kapasitas kader komunitas dengan pemanfaatan teknologi digital agar pelayanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat secara lebih terarah.
“Keberhasilan kegiatan TEP-19 UI bukan hanya tentang apa yang dilaksanakan selama ekspedisi, tetapi juga apa yang dapat ditinggalkan dan dilanjutkan oleh masyarakat serta pemangku kepentingan setempat. Kami berharap penguatan kader dan pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan lapangan dapat mendukung pelayanan kesehatan di wilayah terpencil,” ujar dr. Trevino.
Instrumen digital ini dikembangkan oleh Koordinator Penelitian TEP-19 UI, Dwi Alfian Junior Hasibuan, S.Farm., MSc., dengan memanfaatkan platform KoBoToolbox.
Menggunakan pendekatan hybrid, instrumen tersebut memungkinkan pencatatan data dilakukan secara luring atau tanpa koneksi internet. Data yang telah terkumpul kemudian dapat disinkronkan ke server ketika jaringan tersedia.
Fitur geotagging juga memungkinkan koordinat lokasi kunjungan direkam tanpa koneksi internet, selama perangkat memperoleh sinyal GPS yang memadai.
Data lokasi yang terhimpun selanjutnya dapat dipadukan dengan informasi kesehatan untuk divisualisasikan dalam peta persebaran penyakit menular maupun tidak menular, sesuai dengan data yang dikumpulkan.
Melalui visualisasi tersebut, petugas kesehatan berpotensi mengenali pola persebaran masalah kesehatan, menentukan wilayah prioritas, serta merencanakan kunjungan dan tindak lanjut pelayanan secara lebih terarah.
Menurut Alfian, pengembangan teknologi kesehatan tidak selalu harus dimulai dengan membangun aplikasi baru. Platform yang telah tersedia dapat dimanfaatkan dan disesuaikan dengan kebutuhan pengguna serta kondisi lapangan, termasuk keterbatasan infrastruktur di wilayah terpencil.
Pengembangan instrumen ini turut didukung Koordinator Lapangan dr. Keliopas Maniagasi, bersama Elfis Metkono, S.Hut., Ns. Khansa Citra Ronna, dan Robihah, S.Sos.
Mereka berkontribusi melalui pemberian masukan, pengujian data, demonstrasi, serta uji coba lapangan untuk memeriksa alur penggunaan dan mengidentifikasi potensi kesalahan dalam pengoperasian instrumen.
Inovasi digital tersebut berjalan beriringan dengan pembentukan dan pelatihan Kader Komunitas Penggerak (KKP) di empat kampung, yakni Werianggi, Werabur, Tamoge, dan Kurei.
Keberadaan kader yang didukung instrumen pencatatan digital diharapkan dapat memperkuat pelayanan kesehatan dari rumah ke rumah atau door-to-door. Pendekatan ini dinilai relevan untuk mendukung pelaksanaan program Ketuk Pintu Sayang Mama, terutama dalam menjangkau masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan.
Meski demikian, pemanfaatan instrumen secara berkelanjutan membutuhkan penyesuaian alur pelayanan, pelatihan bagi pengguna, pengelolaan data kesehatan yang aman, serta mekanisme tindak lanjut oleh tenaga kesehatan.
Bagi TEP-19 UI, pengembangan instrumen digital ini menjadi salah satu upaya menghadirkan luaran ekspedisi yang tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga dapat dikembangkan dan dimanfaatkan oleh pemerintah daerah serta masyarakat untuk memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah terpencil.
Rencana adopsi oleh Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama diharapkan menjadi langkah awal untuk mengintegrasikan pemanfaatan teknologi digital dengan pelayanan kesehatan berbasis komunitas, sehingga pencatatan, pemetaan, dan tindak lanjut kebutuhan kesehatan masyarakat dapat dilakukan secara lebih efektif.
Rilis: TEP 19 UI- Wondama
What's Your Reaction?