BTS Masih Jadi Pusat Perhatian, Warga Imopuro Somasi Pemkot Metro

  • Whatsapp

Kabarnusantara.co, Metro- Keberadaan menara Base Transciever Station (BTS) di RT 28 RW 05 Kelurahan Imopuro, Kecamatan Metro Pusat, yang mendapat protes warga masih terus bergejolak.

Pasalnya masyarakat yang terkena dampak menara Telkomsel di wilayah Imopuro Kota Metro melalui Kuasa Hukumnya akhirnya mensomasi Pemerintah Kota Metro.

Bacaan Lainnya

Yudho H Marhoed selaku kuasa hukum warga yang berdomisili di daerah menara tersebut mengatakan “kami somasi untuk meminta Walikota Metro agar membekukan Surat Izin Mendirikan Bangunan Nomor 503.467/16.1/D.I/2001 tanggal 9 Juli 2001 dikarenakan terbitnya perizinan tersebut telah melanggar Asas-Asas Umum Pemerintahan yang baik (Good Government) serta tidak sesuai dan tidak mengikuti ketentuan yang ada,” tegasnya.

Menurutnya, selama ini warga sangat sulit mengakses informasi dokumen berkenaan dengan keberadaan menara telekomunikasi miik Telkomsel. Pemerintah Kota Metro seolah-oleh menutupi dokumen dengan alasan-alasan yang tidak professional.

“Baru tanggal 27 Agustus lalu kami dapat melihat keberadaan Surat Pernyataan Para Tetangga tertanggal 24 April 2001 dan Surat Izin Mendirikan Bangunan Nomor 503.467/16.1/D.I/2001 tanggal 9 Juli 2001, yang ternyata sangat tidak sesuai ketentuan,” ujar Yudho.

Faktanya selama hampir 20 tahun menara berdiri, Telkomsel telah mengabaikan tanggung jawab social yang berkeadilan terhadap masyarakat sekitar menara serta melalaikan kewajibanya untuk menjamin keselamatan, keamanan dan kenyamanan bagi kami warga sekitar menara sedangkan pemerintah Kota Metro telah gagal melindungi kepentingan warga sekitar menara sehingganya masyarakat meminta agar menara telekomunikasi yang berada dipemukiman tersebut untuk segera direlokasi.

“Kami tidak ingin terus menjadi korban yang selalu dikorbankan. Ini menyangkut soal nyawa dan keselamatan keluarga kami sebagai warga negara harusnya mendapat perlindungan bukan malah dikorbankan dengan dalih pembangunan telekomunikasi,” ucapnya.

Pada prinsipnya kami tidak menolak teknologi yang juga dirasakan oleh kita semua terutama musim pademi ini tetapi sedianya pembangunan harus menjunjung nilai-nilai keadilan serta menghormati hak-hak masyarakat.

“Bila pemda Kota Metro bersikukuh mempertahankan menara telekomunikasi, kami meminta agar menara tersebut dipindahkan saja di halaman Pemda sehingga mereka merasakan apa yang dirasakan warga terdampak selama ini. Ini soal hidup dan kehidupan, Kami akan terus berjuang mempertahankan hak hidup, melalui jalur litigasi maupun non litigasi demi keadilan dan hak asasi manusia,” cetus Yudho didampingi beberapa warga terdampak lainnya.

Laporan : Kabarnusantara.co

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *